INILAHCOM, Pasaman - BPP Panti selaku Komando Strategis Pembangunan Pertanian (KostraTani) di Kabupaten Pasaman membimbing, membina dan mendampingi petani karet di Kecamatan Panti mengembangkan tanaman sela cabai merah di kebun karet (tumpang sari). Tujuannya, mengatasi kesulitan petani lantaran harga karet anjlok terdampak pandemi Covid-19 di Provinsi Sumatra Barat.
"Agenda utama berupa penyuluhan massal dengan narasumber dari BPP Panti, temu usaha yang melibatkan agronomis dan formulator dari perusahaan pestisida, demonstration plotting atau Demplot didukung dana APBN dan APBD, dilanjutkan temu lapang melibatkan pihak-pihak terkait didukung media informasi penyuluhan," kata Koordinator BPP Panti, Ade Candra di Pasaman, belum lama ini.
Hasil panen dari kegiatan tumpang sari sejak Februari lalu menggembirakan petani. Harga tertinggi Rp40 ribuan per kg, kata Ade Candra, kalau pun anjlok ke Rp15 ribuan per kg tetap menguntungkan bagi petani, untuk kebutuhan hidup sehari-hari serta keperluan tanam berikutnya.
Kabar baik tersebut berawal dari ajakan penyuluh kepada petani karet di Kecamatan Panti menanam cabai merah sebagai tanaman sela seluas lima hektare di Air Sirah di Jorong Petok Selatan, Nagari Panti Selatan.
"Saat itu, harga karet anjlok ke Rp4.000 hingga Rp4.500 per kg, padahal harga karet di masa normal Rp6.500 per kg. Akibatnya, pendapatan petani hanya Rp1,2 jutaan per bulan dari kebun seluas setengah hektare," kata Ade.
--page
Petani pun 'curhat' ke penyuluh di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) untuk kelangsungan hidup mereka dari mengandalkan perkebunan karet rakyat seluas 1.752 hektare, namun potensinya berbanding terbalik dengan pendapatan petaninya.
"BPP Panti menggagas komoditas hortikultura, yang cocok cabai merah. Dipilih perkebunan Air Sirah, setelah dinilai paling cocok untuk tumpang sari cabai sesuai hasil analisa uji tanah," kata Ade Chandra melalui pernyataan tertulis yang dihimpun Pusat Penyuluhan Pertanian (Pusluhtan BPPSDMP).
Penyuluh Pusat di Kementerian Pertanian, Edizal, selaku pendamping penyuluhan pertanian Provinsi Sumtra Barat mengatakan semangat petani dan penyuluh sejalan dengan kebijakan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, yang menginstruksikan ketersediaan pangan harus tetap terpenuhi meski terhadang wabah Corona.
"Pertanian tidak boleh berhenti. Dalam kondisi apa pun, pertanian harus tetap berproduksi. Petani dan penyuluh sinergi bekerja keras turun ke lapangan. Semua insan pertanian harus memastikan produksi pangan berjalan lancar," pesan Mentan di berbagai kesempatan.
Instruksi Mentan digarisbawahi oleh Kepala BPPSDMP Dedi Nursyamsi bahwa pangan adalah kebutuhan pokok untuk kelangsungan hidup manusia. Pertanian tidak boleh berhenti untuk menyediakan kebutuhan pangan.
--page
"Luas tumpang sari cabai Air Sirah mencapai lima hektare, yang ditargetkan akan bertambah di masa-masa mendatang, setelah melihat antusiasme petani karet mengembangkan budi daya cabai," kata Ade Candra.[yha/INILAH.COM]








