LAMANDAU –

BORNEONEWS, Nanga Bulik - Adanya fenomena 'rumah pohon' di Desa Lubuk Hiju, Kecamatan Menthobi Raya, Kabupaten Lamandau, yang difungsikan mahasiswa untuk kuliah online atau daring (dalam jaringan) selama pandemi Covid-19 memantik reaksi pemerintah desa setempat. 

Sekretaris Desa Lubuk Hiju, Salomo, memberi penjelasan perihal adanya fenomena rumah pohon di area tebing pada salah jalan poros di desa. 

"Betul, tempat itu (rumah pohon) memang ada, tak hanya mahasiswa atau pelajar, masyarakat umum juga setahu saya sering ada di situ. Katanya memang sinyal di situ bagus," kata Salomo, Selasa, 23 Juni 2020.

Salomo kemudian menampik jika pihak pemdes Lubuk Hiju dikesankan tidak memfasilitasi akses internet bagi pelajar dan mahasiswa di desanya.

Pasalnya, Pemdes Lubuk Hiju justru sudah memberikan akses internet bagi mahasiswa dan pelajar untuk kegiatan belajar secara daring. Bahkan, pemdes sudah membuat pengumuman yang dipasang di papan pengumuman desa dan telah diberlakukan sejak adanya kebijakan pemerintah terkait belajar di rumah.

--page

"Fasilitas internet dari pemdes ada di desa dan ada di rumah saya. Tak hanya memfasilitasi akses internet, Pemdes Lubuk Hiju bahkan menggratiskan penggunaan akses internet untuk proses pembelajaran daring, namun dengan syarat," kata dia. 

Untuk mendapatkan kuota internet secara gratis,  syaratnya yakni menunjukan identitas diri sebagai mahasiswa dan atau pelajar, menggunakan masker, cuci tangan dan jaga jarak tentunya.

"Namun, akses internet itu kami tekankan tidak digunakan untuk keperluan lain seperti main game, main IG (Instagram), FB (Facebook), youtube, whatsapp teman/teman dekat yang tidak berkaitan dengan kegiatan belajar. Saya kira ini tidaklah berlebihan sebagai sebuah syarat yang harus dipenuhi. Namun saya heran kenapa masih banyak pelajar atau mahasiswa yang tidak memanfaatkannya dan malah justru lebih memilih di sana (rumah pohon)," kata dia. 

Salomo menjelaskan, pihak pemdes tidak mungkin menanggung semua biaya akses internet bagi masyarakat umum atau untuk keperluan pribadi, karena wifi yang digunakan merupakan jaringan jenis langsung satelit sehingga tidak terkoneksi dengan Base Transceiver Station (BTS). 

Sehingga, harga kuotanya lebih mahal atau tidaklah sama dengan kuota yang dibeli pada jaringan GSM pada telepon seluler yang menggunakan jaringan dari BTS.

"Kami selama ini langganan jenis paket internet top up 15 Gigabyte dengan harga Rp1.098.900 per bulan," tukasnya. (HENDI NURFALAH/B-11)