BORNEONEWS, Palangka Raya - Perwakilan Wartawan Indonesia atau PWI Provinsi Kalimantan Tengah menggelar pelatihan bagi kalangan wartawan terkait risiko liputan di masa pandemi Covid-19 ini.
PWI Kalteng menghadirkan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalteng Suyuti Syamsul sebagai narasumber utama dalam konteks bagaimana meminimalkan resiko terpapar Covid-19 bagi awak media yang tetap melaksanakan tugasnya di tengah pandemi ini.
"Saya bisa katakan bahwa yang namanya resiko ini bisa dihadapi dengan tiga cara yaitu menghindari resiko, ketika resiko tidak bisa dihindari maka harus dikurangani. Nah kalau tidak bisa dikurangi, maka bisa dialihkan. Ini yang namanya manajemen resiko," kata Suyuti dalam pelatihan yang dilaksanakan di Hotel Neo ini, Selasa, 30 Juni 2020.
Memang harus diakui, menurut Suyuti bahwa "risiko" adalah hal yang baru dalam budaya bangsa Indonesia.
"Contohnya kalau di luar negeri tukang-tukang itu sebelum membangun di tempat tinggi, yang harus naik-naik, maka mereka akan diperlengkapi dengan tali temali. Sehingga misalkan jatuh, tidak akan langsung jatuh. Kalau di Indonesia, cukup hanya berdoa," tuturnya.
--page
Ia tidak menyalahkan tindakan berdoa, namun menurutnya harus ada aksi yang mengikuti doa ini. Sehingga timbullah frasa "berdoa dan bekerja".
"Nah, di Indonesia, kita tidak terbiasa menghindari resiko ini, bahkan padanan kata 'resiko' di dalam bahasa-bahasa daerah kitapun tidak ada. Inilah yang saya katakan bahwa sangat susah mengubah pola pikir kita mengenai resiko ini, termasuk di tengah pandemi Covid-19 ini," tuturnya. (TESTI PRISCILLA/m)








