BORNEONEWS, Sampit - Anggota Komisi II DPRD Kotawaringin Timur, M Abadi meminta agar Pemkab Kotim berkaca dari kejadian banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kalimantan Tengah.
Kondisi demikian dianggap sangat jarang terjadi pada sebelumnya. Hal ini menandakan kondisi alam semakin rusak akibat pembukaan kawasan hutan yang tidak terkendali.
“Saya kira tidak menutup kemungkinan banjir-banjir demikian akan sampai ke daerah kita karena kondisi selama ini semakin hari semakin tidak terkendali lagi," katanya, Sabtu, 18 Juli 2020.
Musibah banjir tidak lain karena aktivitas pembukaan lahan yang besar-besaran sementara tingkat rehabilitasi hutan sangat minim dilakukan.
Menurutnya, pembukaan lahan tidak sebanding dengan tingkat hutan yang direhabilitasi dan direboisasi.
--page
Pada era 1990-an kejadian banjir jarang terjadi merendam perumahan penduduk terkhusus di Kotim. Saat ini sudah ada beberapa titik daerah di Kotim selalu rawan terjadi banjir.
“Artinya ada yang tidak beres dengan penanganan lingkungan kita," tegasnya. Kondisi ini bisa saja akibat kebijakan terdahulu yang mana menerbitkan izin pembukaan hutan tanpa melihat potensi bencana ke depan akibat dari kebijakan itu.
Abadi berharap ada langkah dan strategi pemerintah untuk tetap mempertahankan sisa hutan yang ada. Bahkan untuk menanam kembali areal yang sudah gundul dan jadi resapan air sebelumnya. Menurutnya tidak ada kata terlambat jika pemerintah daerah bersama-sama melihat potensi ancaman itu kepada generasi 50-100 tahun mendatang. (NACO/B-6)








