TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Departemen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Tri Yunis Miko Wahyono, mengingatkan jumlah pasien positif Covid-19, tak terkecuali di Jakarta, bisa membeludak jika masih diterapkan isolasi mandiri. Menurut dia, isolasi mandiri tak dapat menjamin pasien Covid-19 berdiam di rumah.
"Apakah bisa dijamin yang diisolasi tetap di rumah? Kan tidak bisa dijamin," kata dia saat dihubungi, Sabtu, 15 Agustus 2020.
Tri berpendapat harus ada regulasi yang mengatur ihwal isolasi mandiri. Kalau perlu, lanjut dia, aturan itu memuat sanksi bagi pasien Covid-19 yang melanggar. Dia khawatir orang yang diduga ataupun positif terinfeksi corona bakal berkeliaran tanpa adanya regulasi.
Tak cuma itu, pemerintah juga perlu mengawasi mereka. Saat ini hanya pihak puskesmas yang mengecek perkembangan kesehatan pasien Covid-19. Itupun, kata Tri, pemantauan melalui sambungan telepon.
Dia berujar, petugas RT dan RW bahkan tidak mengetahui siapa saja warganya yang terpapar virus corona. Masyarakat sekitar justru tak bisa membantu menyalurkan bantuan kepada pasien Covid-19 itu. Alhasil, pasien terpaksa keluar rumah.
--page
"Jadi tidak ada bansos (bantuan sosial) dari masyarakat, karena tidak tahu kasusnya siapa," ucap dia.
Dinas Kesehatan DKI Jakarta mencatat 3.411 dari total 67.827 orang suspect corona hingga kini menjalani isolasi mandiri. Selanjutnya, 174 dari 2.274 pelaku perjalanan isolasi mandiri. Terakhir 11.862 dari 113.694 orang yang kontak erat dengan pasien corona isolasi mandiri.








