KUALA KURUN –

BORNEONEWS,  Kuala Kurun - Seorang bayi asal Desa Tumbang Habaon, Kecamatan Tewah, Kabupaten Gunung Mas yang lahir tanda dubur atau lubang anus. Bayi yang terlahir dari keluarga kurang mampu ini membutuhkan uluran tangan masyarakat untuk biaya operasi.

Bayi berusia 5 bulan itu merupakan anak dari pasangan Logia dan Kriswan. Baru diketahui tidak miliki lubang anus saat berusia 5 hari di dalam inkubator, usai sang ibu menjalani persalinan di RSUD Kuala Kurun. 

"Bayi saya diketahui tidak memiliki dubur setelah 5 hari di dalam tabung. Karena kotorannya keluar dari saluran kemih," kata Logia, Jumat, 21 Agustus 2020

Pihak RSUD Kuala Kurun pun menganjurkan bayinya untuk dirujuk ke RSUD Doris Sylvanus Kota Palangka Raya untuk penanganan lebih lanjut. 

Namun sesampainya di RSUD Doris Silvanus, rumah sakit memberitahukan anaknya baru bisa dioperasi ketika sudah berusia 2 bulan. Sedangkan saat dirujuk, usia bayi baru berusia 7 hari. 

--page

Sementara menunggu usainya dua bulan, pihak rumah sakit melakukan tindakan medis dengan membuat saluran buatan untuk jalan keluar kotoran pada bagian perut si bayi.

Lantaran kondisi keuangan keluarga terbatas dan saat itu sedang pandemi covid-19, mereka pun memutuskan untuk pulang ke Desa Tumbang Habaon sambil mengumpulkan biaya untuk operasi anaknya.

"Hingga saat ini pengobatan anak kami belum belum juga bisa dilakukan. Karena kondisi keuangan keluarga serba terbatas," ungkapnya lirih.

Kondisi ini pun membuat hati nurani Komunitas Sahabat Peduli Sesama (SPS) tergerak, sehingga berinisiatif memberikan batuan sembako dan siap membatu proses kesembuhan bayi tersebut. 

Dewan Pembina SPS Gunung Mas, Iceu Purnamasari menyampaikan rasa keprihatinannya kepada bayi dan keluarganya atas apa yang dialami. Dia menuturkan bahwa komunitasnya siap membantu proses kesembuhan si bayi.

"Mumpung umur bayinya masih 5 bulan, maka segera dioperasi saja. Karena kalau sudah besar, maka saluran kotoran buatan ini tidak lagi bisa diandalkan. Kami di komunitas SPS siap membantu fasilitasi antara orangtua bayi dan pihak rumah sakit," terangnya.

Pihaknya juga berharap ada masyarakat atau dermawan yang tergerak hati nuraninya agar bersama-sama komunitas SPS Gunung Mas membantu biaya pengobatan bayi Moria. (HENDRA/B-11)