PANGAKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Meski Wayan Supadno, petani jeruk chokun atau jeruk madu Thailand berhasil mengembangkan varian tersebut di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), tetap ada tantangan yang harus dihadapi. Yakni berkaitan dengan kondisi lahan.

Kepada www.borneonews.co.id, Wayan Supadno di kebunnya yang berlokasi di RT 12  Desa Kumpai Batu Atas pada Selasa, 1 September 2020 menceritakan, tantangan yang dihadapi adalah lahan yang digarap tidak subur dan kering.

"Walau demikian, sebagai manusia saya tidak boleh menyerah dengan kondisi itu. Lahan yang kering dan tidak subur ini harus disuburkan  kembali dengan penebaran pupuk kandang. Sehingga mikroorganisme yang membuat tanah subur, kembali hidup dilahan tersebut," jelas Wayan Supadno.

Menurut Wayan Supadno, diperlukan adaptasi selama 1 tahun, lahan kering dan tidak subur tersebut bisa ditanami jeruk chokun.

"Dengan pengolahan tanah dan pengelolaan tanaman yang baik, saat ini kebun jeruk yang dibudidayakan sejak 5 tahun lalu ini sudah panen sebanyak 3 kali. Bahkan dalam 3 bulan ini produksi jeruk tidak pernah putus," bebernya.

--page

Saat ditanyakan dari mana ia memperoleh ilmu pengembangan jeruk chokun ini, dengan tegas ia menjawab dari internet.

"Mbah Google yang menjadi guru saya yang pertama. Setelah mencoba beberapa waktu, saya mengajak sarjana pertanian untuk membantu saya dalam mengembangkan tanaman ini. Syukurlah saat ini kebun yang dibudidayakan di Kabupaten Kobar merupakan jadi yang terbesar dari 5 petani jeruk chokun utama di Indonesia," tutur Wayan Supadno. (WAHYU KRIDA/B-7)