BORNEONEWS, Palangka Raya - Kepala Dinas Komunikasi Informatika Statistik dan Persandian Kota Palangka Raya, Gunawan Abel mengungkapkan jelang pesta demokrasi seperti Pilkada biasanya media sosial ramai mempersoalan pasangan calon yang diunggulkan.
Di balik itu aktivitas dunia maya juga rawan menjadi tempat penyebaran kabar bohong atau hoaks dan informasi menyesatkan bahkan bisa muncul ujaran kebencian.
Terkait itu pihaknya menyiapkan beberapa langkah untuk menepis dan mengklarifikasi informasi liar yang beredar.
"Pertama kita menggandeng penyelenggara mulai dari KPU dan Bawaslu serta tim siber aparat kepolisian. Setiap informasi yang beredar kita uji kebenarannya sedangkan jika berbau hoaks atau yang bisa mematik persoalan maka kita lakukan tindakan atas postingan tersebut," kata Gunawan, Rabu 2 September 2020.
Diskominfo juga memaksimalkan peran media masa untuk meluruskan berbagai informasi yang beredar di masyarakat.
--page
Sementara dalam jejaring sosial media seperti Facebook, Instagram, Twitter dan lainnya terdapat tim yang selalu memantau.
"Kita ingatkan kembali agar dalam pesta demokrasi masyarakat tidak membuat postingan atau membagikan tautan yang bisa memicu persolan. Mari bijak gunakan sosial media dan jaga kondusifitas dalam penyelenggaran pilkada," ucapnya.
Gunawan menambahkan, Kemkominfo telah merilis Chatbot Anti Hoaks berupa program komputer yang dirancang untuk menjawab setiap pertanyaan publik mengenai informasi yang masih diragukan kebenarannya.
Chatbot Anti Hoaks ini terkoneksi dengan aplikasi pesan instan melalui akun @chatbotantihoaks. Informasi klarifikasi hoaks yang disajikan berasal dari data base atau pangkalan data Mesin AIS Kemkominfo. (HENDRI/B-6)








