BORNEONEWS, Palangka Raya - Kepala Seksi Kesehatan Hewan, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan atau Distankepang Kota Palangka Raya, Eko Hari Yuwono mengatakan, pihaknya melaksanakan program steril gratis bertepatan dengan Hari Rabies Sedunia, karena tingkat kasus erat kaitannya dengan populasi hewan terlantar.
"Mungkin banyak yang bertanya, kenapa kok Hari Rabies Sedunia, kita malah melakukan program steril gratis bukan kegiatan vaksin rabies gratis, misalnya. Pertama, memang karena jumlah populasi itu erat kaitannya dengan jumlah kasus rabies. Semakin banyak hewan penular rabies atau HPR, apalagi yang terlantar, maka kasus rabies juga kemungkinan akan lebih besar," tutur Eko, Jumat, 11 September 2020.
Kedua, karena di Palangka Raya ini program vaksin rabies sudah dilakukan, bahkan sudah ada kader-kader yang siap datang ke rumah masyarakat untuk memberikan vaksin rabies secara gratis.
"Karena kita sudah punya program vaksin rabies gratis yang kita lakukan sepanjang tahun, makanya untuk Hari Rabies Sedunia kita laksanakan programnya steril gratis. Tujuannya ialah untuk menghambat pertambahan populasi hewan terlantar sebenarnya, karena yang banyak membawa virus rabies ini kan karena hewan terlantar tidak berpemilik ini," jelasnya.
Menurut Eko, jika populasi hewan inti terus bertambah tanpa ada kepemilikan yang jelas, maka kemungkinan anjing itu tidak bertuan dan terlantar juga makin besar. Kalau terlantar, kemungkinannya terkena rabies juga akan semakin besar.
--page
"Steril pada anjing dan kucing betina mengacu pada pengangkatan organ reproduksi (ovarium, saluran telur, rahim), sementara steril pada hewan jantan berarti mengangkat testisnya. Sterilisasi mencegah hewan berkembang biak sehingga mengurangi over populasi hewan peliharaan. Sterilisasi juga memberikan banyak manfaat kesehatan untuk hewan peliharaan dan juga mengurangi masalah perilaku tertentu yang tidak diinginkan," jelasnya. (TESTI PRISCILLA/B-11)








