SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Ketua Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) DPRD Kotawaringin Timur (Kotim), M Abadi mengatakan, saat ini ancaman paling menakutkan bagi penduduk Kotim daerah hulu adalah banjir. 

Padahal sebelumnya tidak pernah terjadi begitu parah. Sekarang ini hampir setiap tahun selalu terjadi. Bencana alam demikian disinyalir karena habisnya kawasan hutan yang beralih fungsi menjadi areal perkebunan.

“Banjir yang melanda sejumlah titik di kawasan hulu memang tidak lepas dari kondisi alam yang sudah mulai rusak," kata Abadi, Senin, 14 September 2020.

Hutan yang menjadi tempat resapan air kini sudah hilang. Sehingga air hujan dari hulu langsung turun dan menghantam pemukiman di kawasan rendah.

Menurut Abadi, kondisi ini bisa saja semakin parah jika tidak ada formulasi untuk mencegah dan menanggulanginya. 

--page

Salah satu jalan yakni mengembalikan fungsi hutan di daerah hulu. Areal hutan yang kritis harus dilakukan penghijauan dan penanaman kembali oleh pemerintah. 

Disinggung mengenai solusi lainnya, Abadi mengakui sulit bisa dilakukan. Karena memang demografi di kawasan hulu memang harus dikembalikan ke sedia kala, salah satunya untuk kawasan hutan.

Menurutnya, idealnya kawasan hutan yang tersisa minimal 40 persen. Sedangkan 60 persennya digunakan untuk kawasan investasi kehutanan dan perkebunan, termasuk juga permukiman.

Berdasarkan peta 2.529, kawasan hutan di Kotim sebenarnya masih ada sebesar 70 persen. Namun dengan adanya pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit belakangan ini, maka sisanya sekarang tinggal 30 persen dari 1.554.456 hektare total luas wilayah Kotim.  

Diungkapkannya pula, luasan hutan di wilayah Kotim terancam berkurang jika tidak dilakukan pemeliharaan dan pengawasan yang ketat.

Ancaman yang dapat mengakibatkan luasan hutan di Kabupaten Kotim berkurang adalah akibat ulah manusia, baik itu pembukaan lahan yang tidak terkendali mau pun akibat bencana alam, yakni kebakaran. Termasuk juga perluasan lahan yang dilakukan koorporasi secara besar-besaran. (NACO/B-11)