TAMIANG LAYANG –

BORNEONEWS, Tamiang Layang - "Anak-anak bukan saja perlu belajar untuk menjadi pintar tapi mereka juga perlu belajar untuk memiliki kepedulian sosial," begitu kata Desy Apriati saat ditemui, Rabu, 23 September 2020.

Borneonews berkesempatan mengikuti kegiatan berbagi kasih yang dilakukan oleh murid-murid Rumah Belajar Gege yang dikelola oleh Desy bersama dua orang temannya. Kali ini murid-muridnya yang kebanyakan usia TK dan SD membagikan beberapa kantong beras kemasan 5 kilogram kepada warga kurang mampu, tidak jauh dari rumah belajar yang terletak di RT 02 Desa Jaar, Kabupaten Barito Timur.

Dengan ekspresi senang murid-murid berjalan kaki sejauh kira-kira 200 meter menuju rumah warga tempat berbagi kasih.

"Anak-anak sudah terbiasa, mereka sangat antusias. Kadang mereka yang mengingatkan kepada kami kapan lagi berbagi kasih," ungkap Desy.

Diantara warga yang mendapatkan bantuan beras, ada yang lansia dan ada juga yang dalam kondisi sakit. Desy yang biasa mereka panggil dengan sebutan Miss turut mendampingi saat murid-muridnya melakukan kegiatan berbagi kasih.

--page


"Bagi kita beras 5 kilogram mungkin sedikit tapi bagi orang yang kekurangan itu sangat berarti," ujar Desy dengan nada pelan menjelaskan kepada Borneonews.

Dia mengisahkan, di Rumah Belajar Gege, mereka tidak hanya fokus mengajar bahasa inggris, tapi juga melatih anak-anak percaya diri, berani serta memiliki karakter yang baik, salah satunya yaitu peduli terhadap orang lain yang mengalami kesulitan.

Karena alasan itu, sejak empat bulan yang lalu Desy mulai menjalankan program berbagi kasih dengan membagikan bahan kebutuhan pokok seperti beras, sayuran dan lauk pauk kepada warga sekitar maupun alat tulis bagi murid Rumah Belajar Gege yang berasal dari keluarga kurang mampu.

"Kami mengajarkan memberi mulai dari hal-hal kecil, jadi tidak harus menunggu kita punya banyak baru berbagi," kata lulusan sarjana pendidikan bahasa inggris dari Universitas Palangka Raya ini.

Menurutnya, anggaran untuk menyalurkan bantuan bersumber dari kas rumah belajar yang disisihkan untuk program itu. Namun seiring berjalannya waktu ada juga orang tua murid yang ingin terlibat dan menyumbang untuk kegiatan yang rutin dilakukan tiap bulan tersebut.

--page


"Kadang orang tua murid menghubungi kami dan menanyakan apa mereka bisa bantu untuk mendukung kegiatan kami," kisahnya.

Wanita kelahiran tahun 1985 ini mengungkapkan, Peliani dan Dennisya yang membantunya mengelola rumah belajar memiliki visi yang sama dengan dirinya sehingga tidak ada konflik ketika harus menyisihkan penghasilan dari rumah belajar yang tidak seberapa untuk berbagi kasih dengan orang lain.

"Saya bersyukur teman-teman yang bantu saya tidak hanya berorientasi pada uang," katanya.

Selain itu, suaminya juga memberikan dukungan sepenuhnya atas apa yang dilakukan Desy di Rumah Belajar Gege.

Desy yang juga bekerja sebagai guru honorer di SDN 1 Jaar dan telah memberikan les bahasa inggris kepada sekitar 40 murid di rumah belajar tersebut, berharap, kelak ketika dewasa anak-anak didiknya menjadi pribadi-pribadi yang memberi dampak positif bagi orang-orang di sekitar.

--page


"Saat dewasa, mereka sudah mengerti arti kasih yang sesungguhnya. Mereka sudah terbiasa berbagi dengan orang lain meski dalam kondisi kekurangan," yakin Desy. (BOLE MALO/B-5)