KALIMANTAN Tengah menjadi salah satu provinsi yang didorong untuk menjadi food estate atau lumbung pangan nasional. Untuk tahapan awal, dilakukan proses pekerjaan irigasi dan olah tanah yang ditargetkan rampung pada Oktober ini. Sehingga pada bulan itu pula proses bercocok tanam dapat segera dilakukan.
Dilansir dari viva.co.id, pihak Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat telah memulai proses rehabilitasi dan peningkatan jaringan irigasi secara bertahap sejak 28 September 2020.
Tentang Food Estate
Food estate merupakan konsep pengembangan pangan yang dilakukan secara terintegrasi mencakup pertanian, perkebunan, bahkan peternakan di suatu kawasan, sebagaimana dikutip oleh indonesia.go.id. Lokasi lumbung pangan baru ini direncanakan berada di Kabupaten Kapuas dan Kabupaten Pulang Pisau, Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng).
Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono mengatakan, terdapat dua pengembangan food estate di Kalteng yakni pertama, untuk tanaman padi yang berada di lahan aluvial seluas 165.000 ha pada lahan Eks-Pengembangan Lahan Gambut (PLG) dengan leading sektor Kementerian Pertanian. Kedua, untuk tanaman singkong seluas 60.000 ha dengan leading sektor Kementerian Pertahanan.
Tahap awal untuk program ini, dimulai dengan tanaman padi seluas 32.000 ha pada Oktober 2020 yang terdiri dari 30.000 ha di kawasan dengan kondisi sawah dan irigasi baik, serta 2.000 ha di Kecamatan Dadahup.
--page
Sedangkan untuk food estate tanaman singkong, Menteri Basuki menuturkan, dari total rencana area pengembangan 60.000 ha, akan mulai dikerjakan seluas 30.000 ha pada 2020-2021 di Kabupaten Gunung Mas, Kabupaten Pulang Pisau, dan Kabupaten Kapuas.
Sisanya seluas 30.000 ha sebagian besar berada di Kabupaten Murung Raya dan akan mulai dilaksanakan di 2021. Pembangunan pusat tanaman pangan merupakan salah satu Program Strategis Nasional (PSN) 2020-2024. Program food estate diharapkan akan menjadi lumbung pangan terbaru di luar Pulau Jawa.
Potensi Pertanian Kalimantan Tengah
Kementerian Pertanian RI memetakan Provinsi Kalimantan Tengah sebagai wilayah
yang memiliki potensi pertanian, potensi pengembangan peternakan serta potensi investasi perkebunan. Kebutuhan bahan pangan nasional, hingga kini belum bisa kita penuhi sendiri.
Namun, bukan hal mustahil untuk meningkatkan produksi dalam negeri, mengingat besarnya jumlah rumah tangga tani, peningkatan kuantitas dan kualitas tenaga kerja sektor pertanian serta pengelolaan sistem pertanian yang baik.
Dukungan masyarakat petani sebagai pelaku usaha tentunya mempengaruhi kuantitas dan kualitas produksi padi. Selain itu, sistem dan pola tanam padi juga turut andil dalam produktivitas padi. Masyarakat petani di daerah ini rata-rata hanya menanam padi dua sampai tiga kali dalam setahun, yakni periode Januari-April, Mei-Agustus dan September-Desember.
--page
Hal tersebut tak lain dikarenakan tekstur tanah dan kondisi geografis di Kalimantan Tengah. Hasil Sensus Pertanian (ST) 2013 menunjukkan bahwa petani di Kalteng cenderung malakukan penanaman padi sawah pada subround pertama atau periode bulan Januari-April. Sedangkan sebagian besar dari mereka menanam padi ladang pada periode bulan September-Desember.
Prospek perkembangan produksi tanaman pangan di Kalimantan Tengah terus meningkat. Peningkatan luas panen untuk mendobrak produksi padi cukup berarti. Kabupaten Kapuas yang akan menjadi lokasi lumbung pangan baru memiliki luas lahan sawah terluas di Kalimantan Tengah, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020.
Hasil Survei Pertanian Antar Sensus (SUTAS) 2018 yang diselenggarakan oleh BPS Kalimantan Tengah mengungkapkan bahwa terdapat 287.868 rumah tangga usaha pertanian. Sebanyak 103.928 rumah tangga diantaranya mengusahakan subsektor tanaman pangan.
BPS mencatat kontribusi sektor pertanian mencapai 20,03% terhadap total PDRB Kalimantan Tengah tahun 2019. Sekitar 12% dari total PDRB Kalimantan Tengah 2019 merupakan sumbangsih dari subsektor perkebunan. Perkebunan kelapa sawit dan karet masih menjadi primadona di Kalimantan Tengah hingga kini. Kedua komoditas ini mempunyai nilai produksi paling tinggi dibandingkan dengan komoditas perkebunan lainnya.
Wilayah Kotawaringin dikenal sebagai sentra pengembangan kelapa sawit, sementara wilayah Barito dikenal dengan karetnya. Pada tahun 2019, berdasarkan hasil metode Kerangka Sampel Area (KSA) total luas panen padi Kalimantan Tengah mencapai 146.145 hektar dan produksi padi Gabah Kering Giling (GKG) sebesar 443.561 ton. Jika dilihat menurut kabupaten/kota, Kabupaten Kapuas memiliki luas penen padi terluas mencapai 42,41 persen dari total luas lahan sawah se Kalimantan Tengah dengan produksi GKG mencapai 203.408 ton.
--page
Menurut BPS Kalimantan Tengah luas kawasan hutan produksi mencapai 75%
dari total luas kawasan hutan di Kalimantan Tengah pada tahun 2019. Kawasan hutan produksi tersebut menghasilkan produksi kayu hutan baik kayu bulat, kayu gergajian maupun kayu lapis.
Produksi kayu hutan meningkat setiap tahun dan mencapai hampir 3,5 juta m3
kayu. Produksi kayu bulat paling banyak jenis kayu meranti, ada juga jenis kayu rimba campuran, kayu indah, dan jenis lain.
Subsektor peternakan juga memiliki potensi yang baik. Produksi daging ternak di Kalimantan Tengah yang paling banyak adalah daging sapi potong mencapai 3,7 juta kg diikuti daging babi yang mencapai 1,5 juta kg. Kemudian produksi telur di Kalimantan Tengah mencapai 4,2 juta kg.
Sementara itu produksi daging unggas mencapai 35,5 juta kg termasuk daging itik, itik manila, dan burung puyuh meskipun proporsinya sangat kecil dibandingkan daging ayam.
Luas lahan pertanian, yang cukup besar, (khususnya luas tanam padi) juga potensi
sumber daya manusia yakni banyaknya jumlah petani yang mengusahakan padi, serta masyarakat Kalteng yang masih menjadikan bahuma (bercocok tanam padi) sebagai
budaya yang terus terjaga kelestariannya, ditambah dengan dukungan pemerintah baik dalam bentuk bantuan teknis, penyuluhan, perbaikan saluran irigasi, subsidi pupuk dan benih, penerapan teknologi pertanian serta penanganan pasca panen, tidak mustahil tujuan dari pengembangan food estate di Provinsi yang terkenal dengan sebutan Bumi Tambun Bungai dapat tercapai.
Penulis: Rizlan Ahmad Fauzan/mahasiswa Politeknik Statistika STIS








