BORNEONEWS, Tamiang Layang - Bupati Pulang Pisau Edy Pratowo, mengisahkan perjuangannya membangun Kabupaten Pulang Pisau menjadi daerah yang terus berkembang meski dengan sumber daya alam yang terbatas.
Kisah ini disampaikan Edy di hadapan beberapa komunitas masyarakat saat berkunjung ke Kabupaten Barito Timur beberapa hari lalu.
Menurut calon wakil gubernur Kalteng berpasangan dengan Sugianto Sabran ini, Pulang Pisau berbeda dengan daerah lain yang memiliki potensi sumber daya alam beragam seperti hasil perkebunan hingga pertambangan.
"Kami punya lahan gambut seluas 59 persen dari total luas Kabupaten Pulang Pisau, dan lahan ini kebanyakan hanya bisa memproduksi asap setiap tahun karena kebakaran," ungkap Edy.
Selain menyebabkan kebakaran dan kabut asap pada musim kemarau, lanjut dia, lahan yang sama menjadi langganan banjir pada musim hujan karena air kiriman dari dataran tinggi Kabupaten Gunung Mas.
--page
Kondisi tersebut membuat sulit untuk membangun daerah tersebut, namun Edy Pratowo tidak berputus asa. Pada awal kepemimpinannya tahun 2013, dia mulai menata Kabupaten Pulang Pisau dengan konsep yang sederhana.
"Saya mulai dengan pengelolaan pemerintahan yang baik dan pengelolaan keuangan yang baik," jelas calon Wakil Gubernur Kalimantan Tengah tahun 2020 ini.
Menurutnya, jika pengelolaan pemerintahan dan keuangan telah berjalan dengan baik maka mudah bagi kepala daerah seperti dirinya untuk mengontrol pembangunan meski dengan sumber daya yang minim.
"Disamping itu saya membangun kerjasama yang baik dengan berbagai pihak termasuk pemerintah provinsi dan pemerintah pusat karena saya sadar dengan sumber daya yang terbatas kami tidak punya uang yang cukup untuk membangun Pulang Pisau," ujarnya.
Bahkan saat Presiden Jokowi berkunjung ke Pulang Pisau beberapa tahun lalu, Edy menjelaskan kepada Presiden bahwa lahan gambut yang ada di pulang pisau harus dikelola agar tidak menjadi sumber bencana kabut asap.
"Presiden menanggapi dengan baik dan membawa industri pengolahan kayu berbahan sengon," ungkap Edy.
--page
Bahkan masyarakat Pulang Pisau saat ini diberikan kewenangan untuk mengelola hutan dengan luas 300, 500, 900 bahkan 1.000 hektare dengan kegiatan menanam sengon.
Dari pengelolaan hutan, telah terbentuk 70 kelompok tani yang mendapat program penanaman sengon, setiap kelompok juga mendapatkan bantuan modal sebesar Rp 200 juta per hektar lahan yang dikelola.
"Sekarang industri tersebut berjalan dengan baik sehingga menyerap tenaga kerja lebih dari 1.000 orang," paparnya.
Kabupaten Pulang Pisau terus mendapat kepercayaan dari Pemerintah Pusat termasuk sebagai bagian dari program food estate bersama Kabupaten Kapuas. Pulang Pisau sendiri mendapat bagian 10.000 hektare untuk pengembangan food estate tahun ini.
"Kami baru saja mendapatkan bantuan handtraktor sebanyak 200 buah untuk pengembangan food estate," ungkap pria 51 tahun yang berpasangan dengan Sugianto Sabran pada Pilgub Kalteng 2020 ini.
--page
Selain mengembangkan pertanian di Pulang Pisau, Edy juga tidak lupa memperhatikan hak-hak masyarakat yang lain seperti membangun islamic center, christian center, stadion hingga perlindungan hutan adat.
"Pulang Pisau adalah satu-satunya kabupaten di Kalimantan Tengah yang telah mendapat persetujuan dari Menteri Lingkungan Hidup untuk hutan adat," jelasnya.
Saat ini Edy terus berupaya untuk meningkatkan sumber daya manusia di Kabupaten Pulang Pisau untuk memaksimalkan pembangunan.
Dia juga ingin keberhasilan yang telah dicapainya di Kabupaten Pulang Pisau, kelak dapat diterapkan seluruh Kalimantan Tengah.
"Yang penting sinergikan program pemerintah pusat provinsi dan kabupaten, bangun komunikasi dan koordinasi yang baik, kita tidak boleh berputus asa karena sumber daya yang terbatas," pesannya. (BOLE MALO/B-5)








