BORNEONEWS, Sampit - Senyum manis terlihat nampak dari seorang pria bertopi dan berkulit sao matang, saat pandangannya tertuju kepada sejumlah anggota TNI dan beberapa warga desa. Yang nampak bercanda disela-sela melicinkan kayu dan menyiapkan bahan bangunan lainnya.
Dirinya berdiri tepat di depan seorang anggota TNI tersebut. Terpisah sekitar 5 meter, sejumlah TNI lainnya sedang bekerja untuk berupaya merenovasi Mushola Al Hidayah di Desa Bapinang Hulu, Kecamatan Pulau Hanaut, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).
Panasnya matahari pagi yang terasa sudah mulai menyengat kulit, tidak menyurutkan niatnya untuk bertahan di lokasi tersebut. Dirinya tetap sibuk saja melihat sesambil berbincang dan membantu anggota TNI yang juga sibuk merenovasi bagian-bagian mushola.
Sesekali juga, senyumnya berubah menjadi tawa. Ketika sejumlah TNI dan warga lainnya bercanda tanpa ada perbedaan kasta atau jabatan.
"Saya lagi membantu bapak-bapak ABRI, membangun mushola kami," ujar lelaki bernama M Dehen.
--page
Pria berusia 40 tahun merupakan warga Desa Bapinang Hilir, yang merupakan salah satu desa terpencil di wilayah Selatan Kotim. Jarak tempuh dari Kota Sampit melalui jalur darat sekitar 40 km.
Setelah itu, dilanjutkan kembali menyebrangi Sungai Mentaya, yang lebarnya sekitar 1 KM, menggunakan perahu kelotok dan membutuhkan waktu sekitar 15 menit.
Mushola Al Hidayah sendiri merupakan bangunan yang sudah cukup lama berdiri. Kondisi warna tembok yang usang, pelapon yang rusak, dan sebagian dinding berbahan kayu yang lapuk menjadi pemandangan utama pada bangunan berukuran panjang 6,50 meter dan lebar 6,50 meter tersebut.
Sejumlah dinding bagian depan mushola tersebut juga bolong. Hingga harus ditambal dengan kayu seadanya. Alhasil, jika hujan deras turun, tidak jarang air membasahi hingga ke dalam ruangan.
Meskipun kondisi yang kurang layak untuk dijadikan tempat ibadah, namun warga tetap saja menggunakannya. Karena mereka tidak ada dana untuk memperbaiki, dan mushola atau masjid lainnya cukup jauh dari desa mereka.
--page
Namun, Dehen dan warga lainnya tak larut dengan cerita masa sulit itu. Pandangannya segera beralih ke bangunan mushola yang baru. Seolah ingin mengatakan bahwa pengalaman kelam itu segera berlalu.
“Saya sangat senang tidak lama lagi kami bisa beribadah di mushola tersebut,” ujarnya.
Ucapan tersebut, seakan menandakan bahwa personel TNI dari Komando Distrik Militer (Kodim) 1015 Sampit, melalui program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD), sudah menyelesaikan tugas mereka bersama masyarakat, guna merenovasi Mushola Al Hidayah tersebut.
Renovasi yang dilakukan tim TMMD bersama masyarakat sendiri tidaklah lama. Hanya membutuhkan waktu sekitar 16 hari saja. Hal itu, dilakukan secara bergotong royong.
Kondisi bangunan sendiri saat ini sudah sangat cantik dan layak. Bagian dinding tidak ada lagi yang rusak, pelapon juga tidak berlubang. Dan saat hujan turun, tidak ada air yang masuk ke dalam tempat ibadah tersebut.
"Kami akan merawat langgar ini dengan baik, dan kami sangat berterimakasih kepada TNI, yang sudah hadir dan membantu merehab mushola kami," ujarnya di akhir perbincanga.
Cerita tersebut hanya bagian kecil dari manfaat program TMMD untuk wujudkan mimpi masyarakat di Kecamatan Pulau Hanaut. Karena, TNI sendiri juga mengerjakan renovasi 3 jembatan di Desa Babirah dan Desa Bapinang Hilir, dan Pos Terpadu.
Diantaranya, Jembatan Handil Gayam yang berukuran panjang 15,30 meter x lebar 3,80 meter. Jembatan Handil Samsu ukuran panjang 42 meter x lebar 3,80 meter. Dan terakhir Jembatan Sei Babirah, ukuran panjang 42 meter x lebar 3,80 meter.
Ketiga jembatan tersebut merupakan penghubung antar desa di Kecamatan Pulau Hanaut. Kondisinya sangat memprihatinkan, bahkan cendrung membahayakan masyarakat saat melintasinya.
Anak-anak sekolah harus berhati-hati saat melintasi jembatan tersebut. Karena, sebagian lantai ada yang bolong dan yang lebih berbahaya lagi sudah lapuk. Sehingga, dikhawatirkan saat diinjak atau dilintasi sepeda pancal serta sepeda motor, malah ambruk.
Kondisi tersebut sudah cukup lama dialami masyarakat, bahkan bertahun-tahun. Karena, jembatan itu dibangun sejak 30 tahun lalu. Tanpa ada perbaikan, ataupun perhatian dari pemerintah daerah.
Kemungkinan besar, hal itu terjadi karena Pulau Hanaut merupakan kecamatan luar kota, dan berada di pesisir. Sehingga, pembangunan sangat sulit dilaksanakan di daerah tersebut.
Apalagi, untuk mencapai daerah tersebut, harus menyebrangi sungai. Sehingga, pergeseran bahan bangunan atau logistik sangat susah, dan tentunya membutuhkan biaya yang besar.
"Mungkin sudah takdir kami yang tinggal di desa terpencil. Hingga, pembangunan dari pemerintah jarang kami rasakan," ujar Mirwan, salah seorang tokoh pemuda di Kecamatan Pulau Hanaut.
Kondisi jembatan tersebut ternyata juga menjadi salah satu penghambat perekonomian masyarakat. Karena banyak pedagang sayur, ikan, buah, serta bahan pokok lainnya, dan para petani sulit melintas di jembatan itu.
Mereka harus penuh kehati-hatian, karena khawatir jatuh dan barang dagangannya serta hasil panennya ikut hanyut di sungai. Sehingga bukan keuntungan yang didapat, namun kerugian.
Keadaan tersebut sendiri ternyata menjadi perhatian oleh TNI. Sehingga program TMMD dilaksanakan di desa tersebut. Hal itu dilakukan bukan tanpa alasan. Karena mereka hanya ingin mewujudkan cita-cita rakyat di Kecamatan Pulau Hanaut.
Program TMMD sendiri resmi dilaksanakan sejak 22 September 2020 lalu. Dan akan berakhir pada 21 Oktober 2020 mendatang. Satu persatu jembatan dibangun melalui kolaborasi antara TNI dan masyarakat.
Progres pengerjaan fisik sendiri berjalan cukup cepat. Karena semangat serta antusias prajurit TNI dan masyarakat sangat tinggi. Hal itu semata-mata untuk dapat segera menyelesaikan jembatan yang sangat dibutuhkan tersebut.
Namun, bukan kehidupan kalau tidak ada hambatan dalam pengerjaan program fisik tersebut. Pandemi Covid-19 hanyalah sedikit kendala yang harus dihadapi. Karena ada hal yang juga bertaruh nyawa saat mengerjakan renovasi jembatan tersebut.
Hambatan itu adalah binatang buas yang dilindungi, yakni buaya. "Kok bisa", mungkin itu yang menjadi pertanyaan orang diluar Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).
Namun, bagi warga Kotim, khususnya masyarakat Pulau Hanaut, sudah sering mendapatkan ancaman binatang tersebut. Terutama pada saat beraktivitas di Sungai Mentaya atau anak sungai lainnya.

Bahkan beberapa warga ada yang pernah menjadi korban serangan buaya, yang lebih banyak berpopulasi di Pulau Lepeh, yang berada tepat di tengah-tengah Sungai Mentaya antara Kecamatan Mentaya Hilir Selatan dan Pulau Hanaut.
Hal itupun menjadi tantangan tersendiri bagi TNI dan masyarakat, saat merenovasi 3 jembatan tersebut. Karena saat melakukan pengerjaan, mereka harus berendam di sungai, dengan rasa takut menjadi korban serangan buaya.
Namun apa boleh buat, karena yang terpikirkan oleh mereka hanyalah mewujudkan cita-cita masyarakat Pulau Hanaut, memiliki jembatan yang aman untuk dilintasi.
Selain itu, kendala lainnya adalah pada saat pergeseran logistik atau bahan baku bangunan berupa kayu dan papan. Karena jika air sedang surut, maka terpaksa TNI dan masyarakat menceburkan diri ke sungai, dan secara estafet memindahkan bahan tersebut ke daratan.
Hal itu terjadi, akibat perahu kelotok yang digunakan untuk mengangkut bahan tidak bisa masuk hingga ke lokasi. Karena kandas akibat air anak Sungai Mentaya tersebut surut.
"Kendala tersebut bukan halangan bagi kami untuk menyelesaikan tugas. Dan semangat kami ini juga diikuti oleh masyarakat," ujar anggota Satgas TMMD Kodim 1015 Sampit Serda Fahrudin.
Meskipun sejumlah kendala harus mereka hadapi. Namun hingga hari ke-23 ini, pembangunan jembatan sudah mencapai 90%. Hal itu terwujud, karena semangat kerja anggota TNI dan masyarakat sangatlah kuat.
"Alhamdulilah, renovasi 3 jembatan tersebut sudah hampir rampung. Bahkan 1 diantaranya sudah rampung. Dan anggota kami bersama masyarakat, dengan cepat berupaya untuk menyelesaikannya tepat waktu," terang Dandim 1015 Sampit Letkol CZI Akhmad Safari.
Saat ini, Jembatan Sei Babirah di Desa Babirah, sudah rampung 100%. Sehingga, masyarakat bisa beraktivitas dengan nyaman. Anak-anak tidak khawatir lagi terjatuh, dan perekonomian masyarakat sudah mulai lancar.
Sehingga, saat ini tinggal 2 jembatan saja lagi yang masih dalam tahap pengerjaan. Namun 1 atau 2 hari ke depan, semua akan rampung.
Sementara, pembangunan Pos Terpadu yang dibuat dari tangan terampil warga bersama tim TMMD, sudah mulai terlihat jelas kondisinya. Tiang-tiang bangunan sudah terpasang rapi. Saat ini, mereka masih sibuk membuat bahan lainnya untuk lantai, dinding, dan atap yang juga diolesi cat.
Hal tersebut dilakukan guna mempercantik bangunan. Sehingga, bisa digunakan masyarakat untuk berkumpul, bersilaturahmi, dan juga menggelar kegiatan apapun, hingga menjadi tempat penyambutan tamu yang datang ke daerah tersebut.
"Pos terpadu ini merupakan program tambahan dari kami. Karena kami melihat tidak ada tempat untuk masyarakat berkumpul. Sehingga, kami berinisiatif untuk membangunnya," kata Safari.
Dirinya berharap pembangunan sejumlah fasilitas umum itu selesai tepat waktu. Sehingga bukti nyata pengabdian TNI untuk program TMMD ini segera dinikmati masyarakat.
Di sisi lain, sasaran kegiatan lain berupa non-fisik seperti penyuluhan Wawasan kebangsaan dan bela negara, penyuluhan kebakaran hutan dan lahan, penyuluhan kesehatan, dan pengobatan gratis, penyuluhan narkoba, serta penyuluhan Covid 19 dan protokol kesehatan, juga diharapkannya dapat meningkatkan wawasan dan kesadaran masyarakat setempat.
Bekerja ala Tentara Jadi Modal Utama Percepatan Renovasi
Gafar, salah seorang warga Desa Babirah yang terlibat langsung dalam pembangunan Jembatan Sei Babirah tampak menggeleng-gelengkan kepala saat ditemui ketika sedang beristirahat sejenak.
Ekspresi itu rupanya bukan untuk menunjukkan ketidakpuasan, namun menggambarkan rasa kagumnya ketika bekerja ala tentara membangun jembatan tersebut.
“Luar biasa, kami bekerja dengan sangat cepat. Lihat itu, hanya beberapa pekan saja, jembatan sudah rampung 100%,” katanya menunjuk ke arah jembatan.
Meski bekerja cepat, Gafar bersama warga lain tetap menikmati pekerjaan. Karena di saat bersamaan, mereka menjalin hubungan keakraban dan persaudaraan dengan para personil TNI.
“Kadang-kadang kami istirahat sejenak dan saling bercanda lalu lanjut bekerja lagi. Kalau lagi uyuh (capek) diganti yang lain. Sehingga kami warga juga lebih betah bekerja bersama bapak-bapak tentara ini,” katanya.
Warga yang terlibat dalam pembangunan fisik ini dibagi dalam beberapa kelompok. Satu kelompok bisa berjumlah 8 orang hingga 10 orang. Mereka berbagi tempat, membangun jembatan, mushola, dan pos terpadu.
"Kami bekerja juga diminta selalu tepat waktu. Dan ini mungkin sebagai langkah mereka untuk meningkatkan kedisiplinan kami sebagai warga," terang Gafar.
TMMD Berkah
Ketika disambangi secara terpisah, Kepala Desa Bapinang Hilir Bahriansyah, beberapa kali mengutarakan rasa syukurnya atas kehadiran Program TMMD di desanya.
Ia bahkan tak menyangka, desa yang dipimpinnya terpilih jadi sasaran program dari sekian banyak desa lain di daerah pelosok yang juga masih membutuhkan sentuhan pembangunan.
"Kami sangat gembira sehingga selama pelaksanaan kegiatan pembangunan ini warga saya sangat antusias untuk terlibat. TMMD ini adalah berkat bagi Desa Bapinang Hilir," katanya.
Ia mengakui, fasilitas umum yang dibangun sebenarnya tidak mampu dibangun pemerintah dan masyarakat desa dalam waktu singkat. Namun lewat TMMD, dikerjakan hanya dalam waktu satu bulan.
Bangunan jembatan yang sebelumnya sangat memprihatinkan dan membahayakan, kini jauh berubah menjadi lebih bagus dan sangat aman dilintasi. Bahkan lebih layak dari yang diharapkan.

"Warga saya bisa lebih tenang saat melintasi jembatan, tidak lagi khawatir jatuh atau ambruk," terang Bahriansyah.
Bagi dirinya, program TMMD ini telah membawa optimisme baru bagi masyarakatnya. Untuk terus berjuang membangun desa agar keluar dari ketertinggalan.
Senada dengan itu, Kepala Desa Babirah Julham Efendi mengatakan, kehadiran program ini adalah berkah terindah. Dan sudah beberapa tahun ini dirinya menjabat sebagai kepala desa, berdoa agar bisa membangun jembatan melalui Dana Desa atau Anggaran Dana Desa. Namun belum bisa terlaksana.
"Saya sangat senang sekaligus kaget. Karena tidak disangka-sangka program TMMD ini malah membantu kami dalam renovasi jembatan," ujar Efendi. (MUHAMMAD HAMIM/B-5)








