PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Wakil Ketua Dewan Pers, Hendry Ch Bangun mengatakan bahwa ada dua sudut pandang penulisan saat seorang wartawan ditugaskan untuk menulis tentang sektor kelapa sawit. Tapi kedua sisi ini sama-sama menuntut bahkan memaksa wartawan untuk berpikir cerdas.

"Menulis tentang kelapa sawit selalu memaksa wartawan untuk bersikap cermat, berpikir cerdas karena ada dua sisi yang kontradiktif," kata Hendry saat menjadi pembicara dalam kegiatan Fellowship Journalist, Rabu, 21 Oktober 2020.

Hal ini dikatakannya dalam Kegiatan Fellowship Journalist Batch II yang dilaksanakan secara virtual atas kerja sama Jurnalisme Profesional Untuk Bangsa atau JProf dan BPDP-KS di bawah Kementerian Keuangan pada Rabu-Kamis, 21-22 Oktober 2020.

"Satu sisi adalah ekonomi. Minyak kelapa sawit ekspor andalan Indonesia yang nilainya mencapai 19 miliar dollar AS, data 2019, dan sebelumnya 23 miliar dollar AS, data 2018. Jumlah yang tidak sedikit untuk kontribusi terhadap pendapatan nasional," kata Hendry lagi.

Ada sekitar 16 juta petani, selain perusahaan, menurut Hendry yang terlibat dalam perkebunan kelapa sawit, serapan tenaga kerja yang amat besar dari angkatan kerja yang bertambah tiap tahun. Mereka ini ikut menikmati hasil sawit dan menggerakkan roda ekonomi di daerah.

--page

"Sisi lain adalah dampak lingkungan dari perkebunan kelapa sawit yang telah mencapai sekitar 13 juta hektar, khususnya di Sumatera dan Kalimantan. Diproyeksikan kebun sawit terus bertambah," jelasnya.

Kebun kelapa sawit sebelumnya adalah hutan alam dengan segala manfaat lingkungan, termasuk hewan di dalamnya, sehingga setiap ada upaya pencetakan kebun sawit baru dianggap merusak alam.

Ini seringkali menjadi objek negative campaign LSM dan media asing. Minyak kelapa sawit yang lebih unggul dibanding saingannya minyak bunga matahari dan kedelai, menjadi bulan-bulanan berbagai negara seperti Uni Eropa untuk diboikot dan terus diserang kampanye hitam.

"Adanya dua sisi, ekonomi dan lingkungan, menuntut wartawan dalam menulis berbekal pengetahuan yang luas, data yang akurat, menguji informasi, dan terakhir memilih sudut pandang," tegasnya. (TESTI PRISCILLA/B-7)