PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Adanya 2 sisi ekonomi dan lingkungan dalam pemberitaan kelapa sawit, menuntut wartawan dalam menulis harus memiliki bekal pengetahuan yang luas, data yang akurat, menguji informasi, dan terakhir memilih sudut pandang.

Itu disampaikan Wakil Ketua Dewan Pers, Hendry Ch Bangun dalam Fellowship Journalist Batch II yang dilaksanakan secara virtual atas kerjasama Jurnalisme Profesional Untuk Bangsa atau JProf dan BPDP-KS di bawah Kementerian Keuangan pada 21 - 22 Oktober 2020.

"Dari sisi ekonomi barangkali soal manfaat dari hulu sampai hilir yang dihasilkan perkebunan dan industri kelapa sawit dapat kita temukan dengan mudah. Pergilah ke Riau, Jambi, Kutai Timur, tersebar contoh-contoh. Begitu juga angka statistik dari asosiasi dan pemerintah," kata Hendry pada pertemuan tersebut.

Sementara dari sisi lingkungan, lanjut Hendry, pemberitaan media asing yang menyudutkan agar dikroscek dan dikonfirmasi datanya. Caranya, bisa pergi ke lapangan bersama lembaga independen, plus mengetahui data dan narasumber beritanya.

"Di permukaan berita-berita kelapa sawit yang dilansir media asing seperti berkiblat pada lingkungan, demi udara sehat dan kemurnian hutan. Tetapi solusi apakah yang diberikan?," tanyanya.

Bahwa terjadi benturan dalam proses pembuatan perkebunan menurut Hendry, maka yang paling tepat adalah memberi jalan keluar, mengedukasi, dan menjadikan media sebagai forum diskusi yang adil dan transparan.

"Bahwa ada masalah dengan terusirnya binatang langka, terpojoknya masyarakat adat tertentu, maka media menjadikan dirinya sebagai penengah untuk win-win solution bagi para pihak, tentu dengan melibatkan tanggung jawab pemerintah," jelasnya lagi. (TESTI PRISCILLA/B-11)