BORNEONEWS, Palangka Raya - Direktur Penghimpunan Dana Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit atau BPDP-KS, Sunari yang diwakili Plt Kepala Divisi Pemungutan Biaya dan CPO pada BPDP-KS, Fajril Amirul mengatakan jika sawit Indonesia merupakan komoditi yang strategis.
"Sawit Indonesia itu merupakan komoditi yang strategis karena menyediakan lapangan kerja dan membantu mengentaskan kemiskinan. Pada industri sawit ada 4,2 juta tenaga kerja langsung dan 12 juta tenaga kerja tidak langsung. Sementara petani sawit di Indonesia ada 2,5 juta petani swadaya yang melibatkan 4,6 juta pekerja," kata Fajril saat menjadi pembicara dalam kegiatan Fellowship Journalist, Rabu 21 Oktober 2020.
Karena itulah dia mengapresiasi kegiatan Fellowship Journalist Batch II yang dilaksanakan secara virtual atas kerja sama Jurnalisme Profesional Untuk Bangsa atau JProf dan BPDP-KS di bawah Kementerian Keuangan, 21-22 Oktober 2020.
"Ekspor sawit bahkan menjadi andalan negara dalam sektor ekspor non migas. Nilai ekspor non migas tahun 2019 lalu adalah 154,9 Juta USD, dari situ 22,4 Juta USD di antaranya adalah dari ekspor sawit," tuturnya lagi.
Pengusahaan dan penggunaan sawit mendukung Sustainable Development Goals atau SDGs sehingga sawit menciptakan lapangan pekerjaan, terutama di daerah perdesaan.
--page
"Sawit juga mendukung ketahanan energi melalui penggunaan energi terbarukan. Selain itu juga sawit dapat mereduksi karbon melalui fotosintesis pada kebun yang sangat luas dan penggunaan sebagai bahan bakar nabati," jelasnya.
Kebun sawit juga menurutnya tidak seperti yang selalu diisukan sebagai perusak lingkungan dan penghapus habitat asli hewan tertentu, malah sebenarnya kebun sawit menyediakan tempat hidup aneka ragam hayati baik flora maupun fauna.
"Perkebunan sawit juga memiliki peranan penting dalam pembangunan perekonomian, menciptakan lapangan pekerjaan dan penghematan devisa," bebernya. (TESTI PRISCILLA/B-6)








