BORNEONEWS, Muara Teweh - Di masa pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) yang telah beberapa bulan terakhir menghantui Indonesia, menyebabkan pembangunan dalam segala bidang terhambat, bahkan terpuruk. Salah satunya yakni dalam pembangunan ekonomi. Namun dalam beberapa bulan belakangan ini, ada peningkatan ekonomi masyarakat dan pemerintahan.
Salah satu politikus yang juga sociopreneur, Sandiaga Uno dalam Webinar Kalimantan Sulawesi series #7 yang diadakan oleh SKK Migas - KKKS Kalimantan dan Sulawesi, Rabu 11 November 2020 bersama insan pers menyebutkan bahwa selama pandemi Covid-19 ini pertumbuhan ekonomi mengalami penurunan bahkan pada pada Kuartal II-2020 tercatat negatif 5,32 persen, dan pada Kuartal III-2020 berada pada kisaran negatif 2,9 hingga negatif 1,1 persen,
Peningkatan tersebut, menurut Sandiaga Uno bahwa adanya peran UMKM yang cepat bangkit dari keterpurukan pandemi covid-19 ini.
Selain itu, di tengah pandemi ini, sosial entrepreneur atau wirausaha sosial banyak bertumbuh dan menciptakan pengusaha baru yang termasuk dalam Usaha Menengah, Kecil dan Mikro (UMKM) yang juga menciptakan lapangan kerja buru.
Wirausaha sosial atau social Entrepreneur merupakan orang yang memiliki inovasi baru dan memiliki potensi untuk memecahkan permasalahan berbasiskan masyarakat. Individu-individu ini bersedia mengambil risiko dan upaya untuk menciptakan perubahan positif dalam masyarakat melalui inisiatif mereka.
"Saat ini entrepreneur di Indonesia tercatat masih sekitar 5 persen, untuk itu peran generasi milenial agar dapat menjadi entrepreneur atau wirausaha sangat terbuka," ucap Sandiaga Uno.
--page
Sementara itu, wartawan senior sekaligus pembawa acara Kick Andy, Andi F Noya yang juga nara sumber pada Webinar ini menyebutkan bahwa peran generasi milenial di era digital disrupsi 4.0 ini sangat dibutuhkan dalam menumbuhkan ekonomi di indonesia. Salah satunya menjadi wirausaha sosial atau Sociopreneur.
Para generasi muda dapat memanfaatkan digitalisasi sebagai modal untuk menjadi wirausaha yang melihat kondisi kebutuhan pasar saat ini.
Menambahkan hal tersebut, digital defender/CEO Digidem.id, Makroen Sanjaya atau yang bisa dikenal dengan Cak Makroen mengungkapkan bahwa saat ini digital dapat dianggap sebagai sebilah mata pisau bermata dua. salah satu mata dapat dijadikan untuk membunuh dan satu matanya lagi dapat digunakan untuk membantu pekerjaan.
"Jadi bagaimana kita dapat memilih untuk menggunakan pisau tersebut untuk apa," katanya. (RAMADHANI/B-5)








