BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Upaya Tim Penanganan Covid-19 di tiap daerah tidak mungkin bisa dilakukan maksimal, bila tingkat keikutsertaan atau partisipasi masyarakat untuk membantu tergolong rendah.
Menurut Juru Bicara (Jubir) Tim Penaganan Covid-19 yang juga Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kotawaringin Barat (Kobar) Achmad Rois, Selasa, 17 November 2020 menjelaskan apa saja yang bisa dilakukan masyarakat untuk membantu Tim Gugus Tugas Covid-19.
"Di antaranya adalah turut mengawasi lingkungannya, proaktif melaporkan bila ia mengetahui adanya individu yang diduga terpapar covid-19 dan kontak eratnya pada tim gugus," jelas Achmad Rois.
Menurut Achmad Rois, harapannya bila ada warga yang proaktif tersebut jangan malah dianggap nyinyir atau mengganggu ketenangan. "Karena disetiap tatanan baik itu keluarga atau masyarakat harus ada beberapa orang yang cerewet. Karena merekalah kader penegak protokol kesehatan dengan tujuan agar pandemi ini cepat berlalu," jelas Achmad Rois.
Lantaran, lanjut Achmad Rois, warga yang proaktif tersebut merupakan sosok kader penegak yang dibutuhkan untuk selalu mengingatkan warga pentingnya protokol kesehatan.
--page
"Kemudian bila ada tetangga atau siapapun yang dilaporkan terpapar covid-19 dan ditangani tim gugus, sebaiknya bantu dan support mereka. Jangan sampai si penderita menganggap bahwa apa yang dialaminya adalah aib," jelas Achmad Rois.
Sementara itu, berdasarkan data tingkat kesembuhan pasien COVID-19 di Indonesia terus menunjukkan tren membaik. Hal ini pun memberikan optimisme tinggi bagi masyarakat dalam melewati masa pandemi COVID-19. Dilansir dari berbagai survei seperti, IPSOS hingga Nielsen, masyarakat Indonesia diketahui paling optimis dalam menghadapi pandemi COVID-19 di Asia Tenggara. Hal ini tak lepas dari tingginya angka kesembuhan COVID-19 di dalam negeri.
“Recovery rate (rasio kesembuhan) dari seluruh total kasus COVID-19 mencapai 82.84%. Angka sembuh dan selesai isolasi COVID-19 meningkat dibandingkan sebelumnya, yaitu 80.51%”, ujar dr. Reisa Broto Asmoro, Juru Bicara Satgas COVID-19 dalam acara Dialog Juru Bicara Pemerintah dan Duta Adaptasi Kebiasaan Baru yang diselenggarakan Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) dengan tema “Antara Pengobatan dan Pencegahan: Pilih Mana?”.
Keseriusan pemerintah dalam menangani pasien COVID-19 juga terlihat dari suplai obat penanganan COVID-19 yang terus terdistribusi dengan cukup. Dengan tujuan meningkatkan rasio kesembuhan, mulai 4 November, obat penanganan COVID-19 ini sudah didistribusikan ke 34 Dinas Kesehatan Provinsi dan 779 rumah sakit di seluruh Indonesia. Pemerintah juga terus melakukan pemenuhan suplai obat penanganan COVID-19 hingga bulan Desember 2020 mendatang. Jumlah tenaga medis pun mencapai 300 ribu orang yang bekerja di rumah sakit rujukan COVID-19 di seluruh Indonesia.
dr Reisa mengatakan bahwa masyarakat sebaiknya tidak takut untuk memeriksakan diri demi mendapatkan perawatan dan pengobatan yang optimal. Karena obat-obatan yang tersedia di fasilitas kesehatan sudah sangat lengkap dan membantu. Upaya penanganan COVID-19 ini juga diikuti dengan rencana pemerintah untuk mengadakan vaksin COVID-19. Rencana ini juga memberikan optimisme bagi masyarakat.
--page
Masyarakat harus menyadari bahwa virus COVID-19 ini nyata adanya. Dengan menjalankan protokol kesehatan 3M dengan disiplin akan efektif mencegah penularan virus COVID-19. “Wajib mencegah dan melindungi diri dari penyakit. Karena yang namanya mencegah jauh lebih mudah, lebih murah, lebih berfaedah daripada mengobati”, tutup dr Reisa Broto Asmoro. (KPCPEN KOMINFO)








