BORNEONEWS, Sampit - Kerusakan alat Polymerase Chain Reaction (PCR) bantuan dari pusat kepada Pemkab Kotawaringin Timur dinilai membuat situasi Kotim semakin darurat.
Pengamat hukum dan sosial di Kabupaten Kotim, Bambang Nugroho Alexander menyoroti kerusakan alat tersebut dan memertanyakan penyebabnya. Padahal umurnya baru beberapa bulan.
"Saat ini kondisi di daerah kita penyebaran Covid-19 semakin meningkat, nah justru alat swab itu malah rusak. Padahal satu-satunya alat ini," kata Bambang, Rabu, 2 Desember 2020.
Bambang menyayangkan hal itu sampai terjadi. Dari itu dia mendesak Pemkab Kotim harus punya langkah cepat, agar alat itu bisa dioperasikan kembali.
"Kalau harus diperbaiki harus secepatnya, jangan sampai terlalu lama. Karena alat itu sangat dibutuhkan," tukasnya.
--page
Bahkan kata dia, jika perbaikan menunggu waktu lama, Pemkab Kotim harus mengambil langkah dengan membeli alat baru.
Jika tidak ada langkah cepat dirinya khawatir, akan banyak pasien Covid-19 dan membludak dan tidak mampu ditangani karena keterbatasan peralatan.
Sementara itu, anggota Komisi III DPRD Kotawaringin Timur, Riskon Fabiansyah, mengaku sudah mengetahui terkait kerusakan alat tersebut.
"Informasi yang kami terima alat PCR sedang dalam tahap menunggu suku cadang untuk perbaikan dan diupayakan secepatnya bisa segera dioperasikan kembali," tegas Riskon.
Menurut dia, alat tersebut sangat diperlukan dalam masa pandemi Covid-19 seperti saat ini. (NACO/B-11)








