BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Asosiasi Pengusaha Pemotong Sapi Pangkalan Bun (Aspepsi) telah menyepakati menaikan harga daging sapi di sejumlah pasar di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) di atas harga eceran tertinggi (HET) dari Rp 125 ribu menjadi Rp135 ribu per Kg.
Ketua Aspepsi Kobar, Anwar mengatakan ketentuan ini mulai berlaku Rabu 23 Desember 2020. Ada beberapa penyebab naiknya harga sapi.
Di antaranya akibat pandemi Covid-19 dan jumlah pasokan sapi yang berkurang, sehingga harus mendatangkan sapi dari pulau jawa serta harga sapi yang tidak stabil.
"Kenaikan harga sapi di atas HET sudah melalui berbagai pertimbangan dan kesepakatan," kata Anwar saat dibincangi Borneonews, Kamis, 24 Desember 2020.
Pihaknya telah mensosialisasikan kepada masyarakat melalui media sosial. Daftar harga yang dirincikan, jenis barang, daging Rp 135 ribu, rawon Rp 125 ribu, tulang Rp 85 ribu, hati Rp 85 ribu, paru Rp 85 ribu, babat Rp 85 ribu dan urat Rp 65 ribu.
--page
Sekretaris Aspepsi Kobar, Jasri sepakat dengan naiknya harga daging sapi dengan berbagai pertimbangan, koordinasi dan yang terpenting berdasarkan hukum pasar.
"Kami tidak mungkin berdagang dengan laba merugi, sehingga ketika bahan baku naik kami juga menaikan harga jual," ujarnya.
Menurutnya kebijakan asosiasi menaikan harga daging sapi merupakan keputusan yang sangat dilematis, di mana mereka mencoba bertahan untuk tidak menaikan harga daging sapi sejak 4 sampai 5 bulan yang lalu akibat dampak pandemi Covid-19.
Terlebih dalam dua bulan terakhir ketersediaan stok sapi yang selama ini di pasok dari salah satu perusahaan peternakan di Kobar sudah mulai terbatas, dan harganya juga sudah tidak stabil.
Sehingga untuk mencukupi kebutuhan sapi pihaknya mendatangkan dari Jawa yang mana harganya lebih tidak stabil.
--page
Ia menyebut walaupun harga sudah dinaikan, saat ini harga eceran tertinggi daging sapi di Kabupaten Kotawaringin Barat merupakan yang terendah di Kalteng, dengan realisasi penjualan per kilo gram Rp 130 ribu.
"Kami dari asosiasi meminta maaf khsusnya masyarakat Kobat atas kenaikan ini yang membuat ketidaknyamanan, namun kami juga tidak ingin terus merugi, karena kami juga mencari sesuap nasi," tuturnya. (DANANG/B-6)








