BORNEONEWS, Jakarta - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengklaim insentif yang diberikan oleh pemerintah untuk membantu pasar modal bertahan saat pandemi dan kini mulai terus menunjukkan pemulihan usai terpuruk saat pandemi mulai masuk ke Tanah Air pada Maret 2020 lalu.
Menko Airlangga mencontohkan stimulus bagi pasar modal yaitu berupa penurunan tarif Pajak Penghasilan (PPh) Badan bagi Wajib Pajak Go Public dan pajak dividen, yang ditujukan untuk mendorong pelaku usaha bergabung dan mencatatkan diri di Bursa Efek Indonesia (BEI).
"Stimulus ekonomi di masa pandemi kita dorong agar terus bisa membuat banyak perusahaan tercatat di bursa efek, seperti PPh Badan maupun Wajib Pajak perusahaan go public," ujar Menko Airlangga saat menutup perdagangan bursa 2020 di Jakarta, Rabu.
Selain itu stimulus juga diberikan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self-Regulatory Organization (SRO) untuk memberikan relaksasi bagi pelaku usaha yang terdampak COVID-19 dan meredam volatilitas serta menjaga stabilisasi pasar modal.
"Khusus untuk menjawab tantangan digitalisasi di sektor pasar modal, pemberian kuasa elektronik telah diberlakukan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Calon investor juga diberikan kemudahan untuk membuka rekening saham secara online. Di satu sisi, sentimen positif juga terus dijaga melalui peningkatan komunikasi dan koordinasi yang berkualitas," kata Menko Airlangga.
--page
Ia menuturkan pada penutupan perdagangan 29 Desember 2020, IHSG telah naik menyentuh angka 6.036,17. Level tersebut telah mendekati level sebelum pandemi COVID-19. Seiring dengan itu nilai kapitalisasi pasar secara perlahan meningkat sudah kembali ke angka Rp7.033,76 triliun atau naik lebih dari Rp2.477 triliun dibandingkan posisi terendah akhir Maret 2020.
Terkait perkembangan Initial Public Offering (IPO) 2020, meski jumlahnya lebih sedikit dibandingkan tahun lalu, tapi masih lebih baik daripada negara lain di ASEAN. Menurut data OJK, sebanyak 53 emiten baru telah mendapat pernyataan efektif dari OJK dan 51 emiten telah tercatat di bursa, sehingga ini menjadi penambahan terbanyak di ASEAN.
"Jumlah investor retail juga naik di tahun ini. Hal ini menunjukkan bahwa mereka percaya (kepada pasar modal Indonesia), dan ini dasar yang bagus untuk pengembangan pasar ke depan," ujar Menko Airlangga.
Tren masuknya aliran modal asing juga turut berkontribusi pada penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, seiring meredanya ketidakpastian pasar keuangan global serta tetap tingginya daya tarik aset keuangan domestik.
Setelah sempat mengalami net outflow cukup besar pada Maret 2020 yang mencapai 7,9 miliar dolar AS, sejak Mei 2020 aliran modal terus mengalami net inflow yakni 1,2 miliar dolar AS (Oktober 2020) dan 1,3 miliar dolar AS (November 2020).
--page
Aliran modal juga mulai keluar dari negara berkembang pada Maret hingga April 2020. Keluarnya arus modal asing tersebut menyebabkan turunnya indeks saham dunia dan negara berkembang. Di saat yang sama, aktivitas manufaktur global juga memasuki fase kontraktif hingga mencapai level 40 pada April lalu.
Tekanan pandemi COVID-19 juga dirasakan di Indonesia. Pertumbuhan ekonomi mulai melambat pada triwulan I 2020 dan masuk ke zona negatif di triwulan selanjutnya. Seluruh komponen pengeluaran dan mayoritas sektor lapangan usaha terdampak. Pelemahan di sektor riil juga terlihat pada aktivitas manufaktur yang terkontraksi signifikan pada April.
Sektor keuangan juga tertekan oleh pandemi. Nilai tukar terdepresiasi signifikan ke level Rp16.500 per dolar AS pada Maret. Pelemahan juga terjadi pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terkoreksi ke level 6.200 pada Januari. Kemudian pada saat kasus COVID-19 terkonfirmasi pertama kali di Indonesia, IHSG kembali mengalami koreksi dan terus turun hingga mencapai level terbawah di angka 3.937,6 di 24 Maret 2020.
Penurunan IHSG itu menyebabkan nilai kapitalisasi pasar Indonesia anjlok ke Rp4.556,3 triliun atau turun lebih dari Rp2.690 triliun dibandingkan posisi awal 2020.
Untuk mengatasinya Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan berbagai kebijakan dan strategi untuk menguatkan sektor kesehatan dan ekonomi, antara lain melalui UU Nomor 2 Tahun 2020 sebagai langkah akselerasi penanganan pandemi dan penguatan stabilitas sistem keuangan.
--page
Dari sisi kesehatan, pengadaan vaksin dan penerapan protokol kesehatan 3M menjadi prioritas. Sementara itu, anggaran sebesar Rp695,2 triliun juga disediakan untuk Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).
ANTARA








