TAMIANG LAYANG –

BORNEONEWS, Tamiang Layang - Sekelompok ibu rumah tangga atau IRT di Tamiang Layang Kabupaten Barito Timur yang dimotori oleh Gusti Wirdaningsih mendirikan usaha yang dinamakan Bank Sampah Mentari. Beda dengan bank pada umumnya, di bank sampah kita bisa menabung tanpa memiliki uang tunai.

"Nasabah menabung sampah anorganik yang sudah dinilai dengan sejumlah uang, bukan menabung uang tunai," ungkap Wirdaningsih saat ditemui di kediamannya komplek Perumahan Mekar Indah Tamiang Layang, Sabtu, 2 Januari 2021.

Menurutnya, Bank Sampah Mentari baru dimulai beberapa bulan lalu namun mendapatkan respon yang cukup bagus dari masyarakat sekitar bahkan dari luar kota Tamiang Layang.

"Saat ini ada lebih dari 20 orang yang rutin menyetorkan sampah di sini, 17 di antara menjadi nasabah atau menabung dari sampah sedangkan lebihnya kami bayarkan tunai sampahnya," jelasnya.

Adapun jenis sampah atau limbah yang diterima di Bank Sampah Mentari yakni kertas kardus, botol kaca bekas kecap atau bir, kertas HVS, duplek, kertas koran, botol dan cup bekas air mineral serta kaleng bekas minuman ringan.

--page


"Kalau limbah cair yang bisa kami terima saat ini baru minyak goreng bekas atau jelantah," jelas Wirdaningsih sambil memilah-milah sampah menurut jenisnya.

Dia menuturkan, sudah lama ingin mendirikan bank sampah namun keinginan tersebut belum juga terealisasi karena tidak ada yang membantunya. Dorongan untuk memulai usaha tersebut semakin kuat saat melihat masyarakat membuang sampah sembarangan atau membakar sampah plastik dan kertas yang masih memiliki nilai ekonomi.

"Kalau dibuang atau dibakar, sampah-sampah itu juga tidak terurai dan justru merusak lingkungan, syukur ada beberapa teman yang memiliki visi yang sama dengan saya sehingga kami bisa mulai bank sampah ini," ujarnya.

Meski tidak ada kendala berarti dalam membangun jaringan penjualan hasil sampah yang ditampung tersebut, namun Wirdaningsih agak kesulitan jika harus menjemput sampah-sampah dari rumah warga yang ingin menjual. Karena itu dia berharap warga sekitar yang ingin menyetorkan sampah ke bank sampah untuk tidak malu mengantar sendiri.

"Sebenarnya kami butuh armada seperti sepeda motor roda tiga untuk bisa mengangkut sampah yang lebih banyak dari toko atau kantor pemerintah," ungkapnya.

--page


Wirdaningsih bersama empat rekannya yang mendirikan bank sampah tersebut berharap pemerintah daerah melalui instansi terkait maupun pihak swasta dapat mendukung pengembangan Bank Sampah Mentari demi pelestarian lingkungan, memberi nilai tambah sampah anorganik serta membuka lapangan pekerjaan.

Kantor-kantor pemerintah yang lain, lanjut dia, juga dapat membantu dengan tidak membakar sampah kertas maupun bekas kemasan air mineral agar dapat ditampung oleh bank sampah.

"Kami berlima hingga saat ini sepakat untuk tidak mengambil upah dulu dari pengelolaan bank sampah ini, kami fokus pada pengembangannya dulu," tandasnya. (BOLE MALO/B-5)