PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Banjir kian mengancam saat intensitas hujan meningkat. Terkait itu, lubang resapan air atau atau biopori menjadi solusi untuk mengurangi genangan. Selain itu, juga dapat memasok persediaan air tanah, meningkatkan kesuburan tanah, menghasilkan pupuk kompos, serta mengurangi jumlah sampah organik.

Balai Pengendalian Perubahan Iklim dan Kebakaran Hutan dan Lahan Wilayah Kalimantan (BPPIKHL Wil-Kalimantan) melalui Manggala Agni Daops Kalimantan III/Pangkalan Bun pun melakukan sosialisasi pembuatan biopori di SDN 8 Madurejo.

Sekretaris Manggala Agni Daops Kalimantan III/Pangkalan Bun, Ferari Puji Saraswati mengatakan, itu sesuai tugas mereka mengampanyekan upaya-upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.

"Jadi pembuatan biopori di lingkungan sekolah dapat menjadi sarana edukasi peserta didik untuk meningkatkan upaya pengendalian banjir, kekeringan, dan tanah longsor," kata Ferari Puji Saraswati, Jumat, 29 Januari 2021.

Sementara itu, Kepala SDN 8 Madurejo, Haterah menjelaskan, sekolahnya merupakan eks tambang galian tanah, sehingga lokasinya lebih rendah dari pemukiman sekitar. Imbasnya, lingkungan sekolah sering menjadi langganan banjir saat hujan berintensitas tinggi.

--page

"Kami pihak sekolah mencari solusi pemecahan masalah banjir yang terus menggenang di lingkungan sekolah. Salah satunya bekerja sama dengan Manggala Agni untuk melakukan pembuatan lubang biopori di sekolah," ujarnya. (DANANG/B-11)