BORNEONEWS, Palangka Raya - Wakil Ketua Dewan Pers, Hendry Ch Bangun mengatakan bahwa ada dua sudut pandang pers di dalam menulis berita tentang kelapa sawit, baik itu industri, perkebunan, dan produk-produknya.
"Menulis tentang kelapa sawit memaksa wartawan Indonesia untuk bersikap cermat, berpikir cerdas karena ada dua sisi yang kontradiktif," kata Hendry saat menjadi salah satu narasumber dalam Webinar Nasional dalam rangka Hari Pers Nasional bertajuk "Peran Kelapa Sawit Terhadap Pembangunan Ekonomi Nasional" kemarin.
Membawa materi bertema "Sikap Pers Indonesia Tentang Kelapa Sawit", Hendry mengatakan bahwa kedua sisi sudut pandang ini menjadi pertimbangan wartawan dalam menulis.
"Satu sisi adalah ekonomi, dimana minyak kelapa sawit ekspor andalan Indonesia yang nilainya mencapai sekitar 21 miliar dollar AS di tahun 2020," tuturnya.
Jumlah ini menurut Hendry merupakan jumlah yang tidak sedikit dari total 169 miliar dollar AS ekspor nasional nasional tahun 2020.
--page
"Selain itu, ada sekitar 16 juta petani, selain perusahaan, yang terlibat dalam perkebunan kelapa sawit, serapan tenaga kerja yang amat besar dari angkatan kerja yang bertambah tiap tahun. Mereka ini ikut menikmati hasil sawit dan menggerakkan roda ekonomi di daerah," bebernya lagi.
Sementara Sisi lainnya, lanjutnya, adalah dampak lingkungan dari perkebunan kelapa sawit yang telah mencapai sekitar 13 juta hektar, khususnya di Sumatera dan Kalimantan. Diproyeksikan kebun sawit terus bertambah.
"Kebun kelapa sawit sebelumnya adalah hutan alam dengan segala manfaat lingkungan, termasuk hewan di dalamnya, sehingga setiap ada upaya pencetakan kebun sawit baru dianggap merusak alam. Ini seringkali menjadi objek negative campaign LSM dan media asing," jelas Hendry.
Minyak kelapa sawit yang lebih unggul dibanding saingannya minyak bunga matahari dan kedelai menurut Hendry menjadi bulan-bulanan berbagai negara seperti Uni Eropa untuk diboikot dan terus diserang kampanye hitam.
"Adanya dua sisi, ekonomi dan lingkungan, menuntut wartawan dalam menulis berbekal pengetahuan yang luas, data yang akurat, menguji informasi, dan terakhir memilih sudut pandang," tuturnya. (TESTI PRISCILLA/B-6)









