PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Deputi Pengkajian Strategik Lemhannas, Prof Reni Mayerni membeberkan pengaruh covid-19 di dalam negeri. Hal itu mengemuka dalam webinar nasional Strategi Penguatan Kebijakan Pengelolaan Sawit Secara Berkelanjutan untuk Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat dalam Rangka Ketahanan Nasional yang diselenggarakan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit atau BPDPKS, Rabu, 10 Februari 2021.

"Di sektor pangan, Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB telah menyebabkan penurunan dari 801 ribu ton pada Januari menjadi 638 ribu ton pada Juni dan naik kembali ke 723 ribu ton pada Desember," kata Prof Reni.

Membawa materi "Menjaga Kedaulatan Negara Melalui Optimalisasi Pemanfaatan Kelapa Sawit Sebagai Sumber Energi Terbarukan", Prof Reni menuturkan bahwa pada sektor Oleokimia naik dari 89 ribu ton pada Januari menjadi 197 ribu ton pada Desember karena meningkatnya kebutuhan sabun dan bahan pembersih.

"Sementara untuk Biodiesel naik dari 5,8 juta ton pada 2019 menjadi 7,2 juta ton pada 2020 karena perubahan B20 menuju B30. Total di 2020 17,35 juta ton, meningkat 3,6% dari 16,75 juta ton pada 2019," jelasnya.

Sementara terkait produksi, konsumsi, ekspor dan stok kelapa sawit 2015-2020, Prof Reni menyampaikan bahwa akibat Covid-19, volume ekspor minyak sawit Indonesia tahun 2020 turun 9,05% dibandingkan tahun 2019.

"Penurunan tersebut terjadi ke negara China (-1,96 juta ton), Uni Eropa (-712,7 ribu ton), Bangladesh (-323,9 ribu ton), Timur Tengah (-280,7 ribu ton), dan Afrika (-249,2 ribu ton)," jelasnya.

Namun, lanjut Prof Reni, terjadi kenaikan ekspor ke Pakistan (275,7 ribu ton) dan India (111,7 ribu ton).

--page

"Nilai ekspor minyak sawit mengalami kenaikan menjadi USD 22,97 miliar dibandingkan tahun 2019 USD 20,22 miliar," tuturnya. (TESTI PRISCILLA/B-11)