BORNEONEWS, Buntok – Kehadiran seorang buah hati tentu menjadi impian setiap pasangan suami istri. Berbagai usaha akan mereka upayakan untuk mendapatkan dan menjaga buah hatinya.
Bagi mereka yang mampu, tidak mempermasalahkan dengan biaya persalinan atau melahirkan anak. Namun, bagi yang tidak mampu kadang menemui kendala dalam pembiayaan, apalagi persalinannya melalui operasi atau caesar.
Itulah yang dialami pasutri Rahmadi (28) dan Linda (25) warga Jalan Barito Raya Buntok, Barito Selatan. Saat persalinan putri pertama mereka bernama Aqila Sabira yang saat ini, Kamis, 11 Febuari 2021 genap berusia 15 hari.
Sebelumnya, sejak awal kehamilan Linda, keduanya pun menabung selama 9 bulan. Suaminya sehari-hari hanya bekerja sebagai buruh bangunan serabutan.
Penghasilan tidak seberapa, lantas membuatnya berfikir untuk menyisihkan sisa uang kebutuhan sehari-harinya. Alhasil, jumlah yang mereka kumpulkan selama 9 bulan itu diperkirakan sekitar kurang lebih Rp 3 juta.
Dia menceritakan sebelumnya, pada 25 Januari 2021, istrinya sedang hamil merasa ada tanda-tanda mau melahirkan. Kemudian langsung dibawanya ke salah satu klinik persalinan yang ada di Buntok.
"Pada awalnya mengharapkan persalinan secara normal, sebab saya hanya memiliki tabungan untuk biaya persalinan," kata Rahmadi.
--page
Namun lanjut dia, setelah istrinya menjalani perawatan selama dua hari pada klinik persalinan tersebut, ternyata mengalami kendala, sehingga anak yang dikandung istrinya itu belum bisa dilahirkan.
Kondisi istrinya sudah mengalami kelelahan serta habis tenaga berjuang selama 2 hari dalam proses persalinan dan bidan pada klinik tersebut pun merujuk istrinya ke RSUD Jaraga Sasameh Buntok pada 26 Januari 2021 sekitar pukul 16.30 WIB.
Di rumah sakit, sang istri pun mendapat perawatan, dan petugas medis mengupayakan agar persalinannya dapat berjalan secara normal.
Setelah lama menunggu, belum juga bisa melahirkan secara normal dan pihak Rumah Sakit mengkonsultasikan kepada dirinya agar persalinannya dilakukan dengan operasi caesar supaya istrinya sehat dan juga bayinya bisa lahir dengan selamat.
Ia menjelaskan, sekitar pukul 22.00 WIB, istrinya pun menjalani operasi di rumah sakit dan setelah itu lahirlah buah hati pertamanya yang diberi nama Aqila.
Rahmadi pun senang dan bahagia dengan lahirnya putri tercinta. Namun pada saat itu juga terselip rasa risau dan sedih, sebab dirinya harus menyiapkan biaya operasi persalinan yang sudah dijalani sebesar Rp 7 juta.
"Istri saya memang ada memiliki BPJS yang iurannya ditanggung Pemkab Barsel. Namun berdasarkan informasi dari pihak RSUD kartunya tidak aktif lagi. Kartu bisa aktif harus didaftar ulang pada Mei 2021 nanti," ungkapnya.
Oleh karena itu, Rahmadi pun harus rela menggadaikan satu-satunya sepeda motor Rp 2,5 juta namun uang dimiliki hanya Rp 5,5 juta masih kurang Rp 1,5 juta.
--page
Lantaran tak cukup, ia pun potang panting mencari utangan dari tetangga mereka, beruntung para tetangga meski pas-pasan dengan suka rela memberikan pinjaman.
Karena hanya mendapatkan uang Rp 5,5 juta dia meminta keringanan biaya persalinan dengan pihak rumah sakit dan pihak rumah sakit menyetujui dengan pembayaran senilai itu.
Dengan nada pelan sambil terbata-bata, ia mengungkapkan, sebenarnya, petugas kesehatan pada rumah sakit menyarankan agar bayinya dirawat inap selama satu pekan kedepan, karena ditakutkan terjadi infeksi akibat kemungkinan terminum air ketuban, sedangkan untuk biaya perawatan dalam per harinya Rp 700 ribu diluar biaya inapnya.
"Kita tidak menyanggupi menyiapkan biaya sebesar itu, sehingga saya bersama ibu mertua, dan istri memutuskan untuk pulang dan menjalani rawat jalan dirumah saja," ucap Rahmadi yang duduk disamping Linda yang nampak mata keduanya terlihat berkaca-kaca.
Rahmadi bersama istri dengan ibu mertuanya juga sepakat membawa pulang Aqila ke rumah mertuanya yang sama-sama di Jalan Barito Raya. Kondisi rumah mereka dindingnya terbuat dari bahan papan tipis beratapkan daun yang sebagian bocor.
Sementara bagian Humas RSUD Jaraga Sasameh Buntok, Noor Halidah membenarkan bahwa memang ada pasien bernama Linda melakukan proses persalinan di rumah sakit.
"Iya benar dirawat di RS, bahkan sekarang sudah keluar dari RS, karena sudah sembuh," ucap dia.
Menurut dia, terkait alasan BPJS tidak aktif, merupakan kewenangan dari pihak BPJS yang bisa menginformasikannya. Yang jelas bila tidak aktif BPJSnya, maka masuk sebagai pasien umum.
--page
Meskipun demikian lanjut dia, pihaknya akan tetap memberikan pelayanan yang terbaik terhadap semua pasien yang dirawat di RSUD Jaraga Sasameh Buntok.
Kepala BPJS Kesehatan Buntok, Netty mengatakan kalau memang kartu BPJS yang iurannya ditanggung pemerintah kabupaten itu non aktif berarti tidak ter-cover diikutsertakan sebagai peserta oleh pemerintah daerah.
"Sebab pada 2020 lalu banyak pengurangan jumlah peserta BPJS yang iurannya ditanggung pemerintah daerah. Dari 70 ribu berkurang menjadi sekitar 22 ribuan, dan pada 2021 ini juga informasinya tidak ada penambahan jumlahnya," ucap dia. (URIUTU DJAPER/B-11)









