JAKARTA –

TEMPO.CO, Jakarta - Bitcoin pada hari ini, Rabu, 17 Februari 2021, melejit dan menyentuh level tertinggi sepanjang masa di US$ 50.602 atau sekitar Rp 706 juta (asumsi kurs Rp 13.945 per dolar AS). Penguatan mata uang digital ini di antaranya karena semakin dipercaya perusahaan dan investor besar.

Adapun dolar AS rebound dari posisi terendah tiga minggu pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB). Penguatan dolar kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS ke tertinggi sebelum pandemi dan sentimen ekonomi bullish.

Sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun menyentuh level tertinggi sejak Februari 2020, menambah dukungan bagi greenback saat optimisme ekonomi memicu reflasi perdagangan.

Sebelumnya optimisme disampaikan oleh Presiden Federal Reserve St.Louis James Bullard, yang mengatakan dalam sebuah wawancara di CNBC bahwa kondisi keuangan AS secara umum baik. Selain itu ia juga menyebutkan prediksi inflasi akan memanas tahun ini.

Laporan manufaktur Empire State yang optimistis juga diberikan oleh dari The Fed New York menuliskan gambaran ekonomi yang lebih cerah daripada yang ditunjukkan data yang dirilis minggu lalu.

"Imbal hasil tinggi memberikan dolar dengan sedikit dukungan," kata Shaun Osborne, kepala strategi valas di Scotiabank di Toronto. "Tapi banyak orang percaya kenaikan imbal hasil akan dibarengi dengan inflasi yang lebih tinggi."

Meski tak yakin bagaimana dampaknya kepada tren keseluruhan, Osborne memperkirakan dolar AS akan diperdagangkan lebih melemah di masa mendatang. Terhadap sekeranjang para pesaingnya, dolar naik 0,21 persen menjadi 90,508, setelah sebelumnya jatuh ke 90,117, level terendah sejak 26 Januari.

--page

Terkait Bitcoin yang menembus level psikologis US$ 50.000 itu, Osborne melihatnya sebagai hal yang spekulatif. Pasalnya, mata uang kripto itu terakhir ditarik kembali ke US$ 48.675,18.

Mata uang kripto terbesar di dunia itu telah meningkat sekitar 68 persen sepanjang tahun ini, didorong oleh pengumuman Tesla Inc. telah membeli Bitcoin senilai US$ 1,5 miliar. 

"Karena perusahaan yang lebih besar tertarik, hal itu memberikan legitimasi yang lebih besar, tetapi tampaknya masih spekulatif, perdagangan ritel pada saat ini," kata Osborne.

TERAS.ID