BORNEONEWS, Sukamara - Bupati Sukamara, Windu Subagio mengatakan bahwa program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) yang dilaksanakan di Kecamatan Permata Kecubung dan Balai Riam akan menimbulkan ancaman dari sisi ekonomi.
"Berulang saya katakan, bahwa ada ancaman juga dari sisi ekonomi, terutama di daerah Permata Kecubung dan Balai Riam," kata Windu Subagio, Rabu, 10 Maret 2021.
Menurutnya, ada sekitar 8.000 hektar kebun sawit yang akan direplanting di dua wilayah tersebut. Dalam hal ini, peremajaan sawit akan dimulai dari 2023 sampai dengan 2025 yang akan datang.
"Kita tau, saat ini setiap bulan mereka mendapatkan puluhan miliar, puluhan miliar yang didapatkan ini dibagi hampir merata kepada masyarakat Permata Kecubung dan Balai Riam," ujarnya.
"Dan sampai pada saatnya nanti di tahun 2025, puluhan milir yang dihasilkan dari kebun sawit ini tidak lagi diterima karena proses replanting. Ini merupakan ancaman," tutur Windu.
--page
Menurutnya, dampak dari replanting tersebut tidak hanya dirasakan oleh para pekebun yang kebunnya melaksanakan program PSR, namun juga para pedagang yang ada di wilayah tersebut.
"Setelah replanting dilakukan maka akan menunggu lagi sampai kebun tersebut kembali berproduksi, sehingga ini menjadi perhatian bersama agar dampaknya tidak terlalu dirasakan masyarakat," ucapnya.
Dirinya berpesan kepada para camat dan juga dinas terkait untuk bisa memitigasi dampak dari replanting tersebut, sehingga kontraksi ekonomi tidak berkepanjangan dirasakan oleh masyarakat.
"Sehingga perlu saya sampaikan apabila ada program unggulan baik dibidang pertanian, perkebunan dan lainnya dengan konsep yang jelas maka silahkan dilaksanakan untuk meningkatkan perekoniman masyarakat," tutup Windu Subagio. (NORHASANAH/B-7)









