PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Solidaritas Perempuan (SP) Mamut Menteng Kalimantan Tengah (Kalteng) menilai media sosial memberikan pengaruh terhadap budaya bersosial masyarakat terutama generasi muda.

Sosial budaya ini secara tidak langsung ikut menjadi pemicu meningkatnya angka pernikahan anak usia dini dan membuat Kalteng menempati posisi kedua nasional tertinggi.

Ketua Badan Eksekutif SP Mamut Menteng Kalteng, Margaretha Winda F Karotina menilai di masa pandemi seperti saat ini anak sekolah online mendorong untuk pemberikan gawai atau gadget sebagai sarana belajar. 

Tetapi gawai tersebut akhirnya bisa berpengaruh ke anak dimana yang awalnya tidak mengenal sosial media menjadi mengenal. Akhirnya berkenalan dengan siapapun di media sosial tersebut dan pacaran kemudian terjadi hal yang tidak diinginkan. 

“Berkenalan di medsos, ketemuan dan pergi dari desa akhirnya kembali sudah hamil. Padahal masih di bawah umur,” ungkapnya.

--page

Margaretha mengaku miris melihat anak-anak yang masih berusia 14 sampai 15 tahun sudah dinikahkan oleh orang tuanya. Apalagi dengan potensi bahaya kehamilan jika sebenarnya masih belum masuk usia optimal untuk menikah.

“Tahun ini juga di suatu desa di Mentangai Kabupaten Kapuas ada satu perempuan berusia 16 tahun meninggal karena melahirkan,” tuturnya.

Menurut dia, sebenarnya langkah dari pemerintah sudah sangat bagus dalam menekan angka pernikahan dini. Salah satunya edaran gubernur untuk tidak menikahkan anak diusia dini. 

“Menurut kami tidak hanya dengan edaran. Tapi juga perlu dilihat akar masalahanya kenapa bisa sampai tinggi. Saya lihat masalahnya ada di ekonomi, pendidikan dan modernisasi (globalisasi),” tandasnya. (HERMAWAN DP/B-6)