PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Pecahnya kasus Korupsi di Perusahaan Daerah Air Minum atau PDAM Kapuas menyita perhatian banyak orang terutama para tetangga yang tidak percaya pada dugaan tersebut. Hal ini terungkap dalam wawancara bersama Maria, Istri Widodo terduga korupsi seperti dikutip dalam tayangan JurnalTV.

Ketidakpercayaan para tetangga dan keluarga ini bukan tanpa alasan. Apalagi untuk menguliahkan anaknya saja, Widodo tidak mampu dengan alasan keterbatasan dana sehingga dugaan atas kasus korupsi yang mencapai angka Rp 7,4 miliar inipun diragukan.

Direktur PDAM Kapuas periode 2013-2017, Widodo berdasarkan perhitungan Badan Pemeriksa Keuangan atau BPK diduga melakukan korupsi hingga menimbulkan kerugian keuangan negara sebesar Rp 7,4 miliar. Dan sampai saat ini kasusnya terua bergulir.

Maria sebagai istri mengaku tidak kecewa dengan adanya kasus ini, justru berharap kasus ini lekas diatasi. Dia juga berharap suami dapat kembali bersama keluarganya.

"Bapak (Widodo) menyerahkan diri saat berangkat ke Palangka Raya. Katanya ada panggilan. Kami tidak tahu kalau bapak menyerahkan diri (Januari 2021). Waktu saya telepon, baru bapak cerita kalau dia menyerahkan diri supaya kasus ini cepat terbongkar dan kebenarannya terungkap," kisah Maria di kediamannya didampingi putri bungsunya Winarti.

Maria memulai ceritanya dari awal mula sang suami sampai bisa mendekam di Rumah Tahanan (Rutan) Kelas II A Palangka Raya. Di rumahnya yang terlihat sederhana, seperti umumnya rumah-rumah kayu di Desa Barimba, Kapuas Hilir Kabupaten Kapuas, jauh dari kesan mewah, Maria mengaku selama ini banyak pertanyaan terus bergulir.

Seperti, Kemanakah uang itu? Aset apa saja yang dimiliki Widodo? Sebabnya, rumah yang ditinggali keluarga Widodo jauh dari kesan mewah, bahkan Maria menyebut sampai sekarang masih berkebun untuk mencukupi kebutuhan harian keluarga. Paling tidak untuk makan sehari-hari sayur mayur yang dibutuhkan tertutupi tak perlu membeli.

--page

"Walaupun bapak ditahan, kami masih bisa bersyukur karena tetangga-tetangga banyak yang memberikan dukungan, dan meminta kami sabar. Karena mereka tahu sendiri keadaan kami. Aset yang kami miliki hanya rumah ini dan lahan tanah sekitar rumah untuk bertani dan berkebun. Itu pun sudah kami miliki sebelum bapak diangkat jadi direktur PDAM 2013 lalu," katanya lagi.

Maria yang punya latar belakang sebagai tenaga pendidik ini menyebut bahwa tetangga memberi respon positif karena tahu kehidupan keluarga sehari-hari. Bahkan Widodo yang juga dipercaya sebagai ketua RT ini menjadi cermin bagi tetangganya, bagaimana bercocok tanam.

"Selama bapak jadi ketua RT, lahan di sekitar yang dulu hutan sekarang jadi lahan terbuka. Itulah kemajuan Barimba. Tetangga-tetangga yang dulu tak mau bercocok tanam setelah melihat contohnya, lalu tertarik dan dibina bapak langsung, sampai bapak membentuk kelompok tani," jelas Maria sembari menyebut Widodo dipercaya sebagai ketua sejak 1997 sampai 2013, ketiak ia dipercaya menjadi Direktur PDAM Kapuas.

Perempuan yang dikarunia tiga buah hati ini menyebut, orang tua Widodo, Cipto, dulunya memang petani. Hidupnya susah. Menjual hasil kebun hanya menggunakan sepeda ontel, untuk menyekolahkan Widodo yang kemudian luus dari STM pada 1984.  Ilmu bertani dari ayahnya inilah yang kemudian diterapkan Widodo. Hingga kebutuhan beras dan sayur mayur bagi keluarga ini tercukupi.

Nenek dari sejumlah cucu ini juga mengungkapkan terkait besarnya tuduhan korupsi yang dilakukan suaminya, jika dibandingkan dengan kehidupan mereka sehari-hari jauh berbanding terbalik. Sebabnya, tak ada asset tambahan sejak suaminya menjabat sebagai direktur. Malah ia mengaku beberapa kali menutupi biaya kegiatan di kantor suaminya, di PDAM dengan uang pribadi. Pernah satu kali ia harus merelakan menjual cincinnya, untuk menyediakan konsumsi saat ada kegiatan di PDAM.

Sebagai perempuan dan istri direktur PDAM, ia juga mengaku ingin hidup lebih layak seperti istri pejabat pada umumnya. Kendati sebagai direktur Widodo tetap bercocok tanam sebagaimana biasanya. Mobil yang digunakan keluarga ini juga kendaraan dinas, yang sudah dikembalikan sejak Widodo tak menjabat lagi.

"Waktu saya bilang begitu ke bapak tentang keinginan saya, seperti istri pejabat lainnya, bapak malah menasehati saya, jangan melihat ke atas, tapi syukuri saja yang ada saat ini. Hiduplah apa adanya. Kita masih bisa makan, keluarga kita sehat. Itu sudah cukup," kata Maria mengutip nasehat suaminya.

--page

Sementara itu, Winarti sang putri bungsu sesekali menyelingi kisah ibunya sembari menambahkan bahwa kehidupan keluarga mereka jauh dari mewah. Bahkan untuk melanjutkan kuliah pun Winarti tidak bisa, karena orangtuanya tak punya uang. Padahal ia diterima dan lulus tes masuk kedokteran.

"Saya lulus 2016, bapak waktu itu menjabat direktur PDAM, tapi waktu saya minta untuk melanjutkan kuliah. Bapak bilang sabar dulu, karena uang kuliahnya tidak ada. Saya lalu kerja sebagai kasir di PDAM pada 2017. Dari uang yang saya kumpulkan itu saya bisa kuliah," cerita Winarti.

Lebih jauh, kedua perempuan ini berharap segera ada putusan pengadilan agar kasus dugaan korupsi ini terang benderang. Kemana larinya uang sejumlah triliunan yang disangkakan digelapkan Widodo. Kendati demikian, Maria dan Winarti mengaku masih bisa bersyukur, karena kondisi Widodo dalam keadaan baik. Tidak stress. Sehat. Tetap menjaga imannya sekalipun dalam tahanan. Tak ada nada menyalahkan Tuhan karena kondisi tersebut. Apalagi selama pandemi Covid-19 ini, kunjungan kekuarga pun dibatasi. Hanya beberapa kali saja putri-putrinya bisa ke rutan untuk mengantarkan makanan.

"Kami bersyukur bapak sehat, rutinas hariannya seperti belum ditahan, seperti berolahraga, dan beribadah tetap bisa dilakukan dengan baik. Malah bapak yang diakon di gereja, bisa mengajak tahanan lainnya untuk sama-sama beribadah. Bapak yang memimpin. Bapak tetap melayani Tuhan walau dalam tahanan. Kami sangat bersyukur," tegas Maria seraya menyampaikan pesan Widodo agar ia sebagai istri, ibu dan nenek tetap kuat.

Keluarga tetap yakin Widodo tidak bersalah, Widodo sebagai imam keluarga dikenal jujur dan sederhana dalam kesehariannya. Keluarga berharap pengadilan bisa melihat dengan jernih setiap bukti dan kenyataan yang ada. Baik tentang keseharian keluarga yang jauh dari mewah, hingga jumlah asset yang tak sebanding dengan tudingan uang yang dikorupsi.

"Kami percaya Tuhan tetap menolong kami menghadapi semuanya. Kami berharap semuanya cepat selesai dan bapak tidak ditahan lama-lama," tutup Maria. (TESTI PRISCILLA/B-11)