PALANGKA RAYA –

BORENOENEWS, Palangka Raya - Saat melaksanakan kunker ke Setu Babakan, Jakarta Selatan (Jaksel), belum lama ini Wakil Ketua III DPRD Kalteng, Faridawaty Darland Atjeh mengunjungi perkampungan Betawi. Di tempat itu dia mempelajari budaya Betawi.

Saat itu, ia mengungkapkan kekagumannya, bagaimana tidak dari lahan seluas 289 hektare dijadikan perkampungan modern akan tetapi tetap mengedepankan nuansa betawi secara tradisional.

"Kenapa tetap tradisional karena tujuannya yaitu menjadikan suku betawi sebagai warga utama di Privinsi DKI Jakarta, dan tetap dalam komposisi yang heterogen sebagai bagian dari penduduk ibu Kota Negara," ucapnya, Jumat, 23 April 2021.

"Ini tentunya sangat positif untuk pembelajaran bagi kita semua khususnya pengembangan budaya Kalteng," tambahnya.

Meski perkampungan itu belum ditetapkan sebagai cagar budaya, namun pihaknya diberikan gambaran jelas masalah pembangian zona dinamis serta statis. Zona itu dibagi menjadi beberapa bagian diantaranya zona budaya, kuliner, dan pengembangan.

--page

Meski dalam bentuk perkampungan namun nuansa modern telah diterapkan sebab ditempat itu ada rumah ibadah, koperasi, contoh rumah Beatawi pesisir, Betawi tengah serta Betawi pinggir.

Selain itu, ada juga beberapa empang. Empang ini berisi ikan khas Jakarta, wisata edukasi yang didalamnya terdiri dari pertanian dan perikanan, serta ada tempat pengembangan tanaman khas betawi sperti buah kesemek, alpukat dan sebagainya.

"Diarea tersebut juga ada optimalisasi budaya mengaji, workshop kebudayaan seperti pembuatan batik, souvenir, tarian betawi, kuliner dan lainnya," tuturnya.

Kemudian di perkampungan itu dibangun museum Betawi dijadikan destinasi wisata buatan yang biasa disebut dengan Kampung Betawi Situ Babakan. Wilayah ini juga memiliki area theater terbuka, lalu disekitarnya ditanami tanaman khas Betawi.

Masyarakat umum bisa memanfaatkan fasilitas yang ada di area tersebut untuk menyelenggarakan event-event tertentu dengan syarat harus merincikan kesenian dan kebudayaan betawi, seperti pemanfaatan kuliner dan penampilan tarian betawi.

"Meski ditengah tekanan arus urban yang luar biasa, mereka tetap bisa memelihara peradaban betawi agar tidak hilang, tentu saya sangat mengagumi hal tersebut," ujarnya.

"Seandainya Kalteng memiliki kawasan seperti itu, saya yakin akan dapat menjadi tempat wisata unggulan disamping upaya kita menjadikan Dayak yang beragam namun tetap menjadikan warga utama di daerahnya sendiri," tandasnya. (DONNY D/B-6)