BORNEONEWS, Sampit - Ketua Fraksi Partai Nasional Demokrat DPRD Kotawaringin Timur (Kotim), Syahbana menyebutkan persoalan banyaknya lahan terbengkalai milik masyarakat karena keterbatasan modal.
Sehingga kata dia saat ini masih banyak lahan yang dikuasai masyarakat menjadi tidak produktif. Di satu sisi masyarakat sebenarnya ingin saja mengelola namun ada faktor penghambat apalagi saat ini dengan pengetatan pembukaan lahan sistem bakar membuat petani semakin tidak berkutik.
“Persoalan utama kenapa banyak lahan tidur tidak produktif milik masyarakat karena masyarakat ini tidak ada dana untuk menggarapnya sehingga lahan itu terbengkalai," kata Syahbana, Minggu, 2 Mei 202@.
Menurutnya untuk mengolah lahan perhektare tidak sedikit, apalagi jika dikerjakan secara manual. Untuk urusan pembersihan saja per hektare saja bisa mencapai Rp6 juta.
"Kalau melihat dari biaya pembersihan satu hectare itu memang dianggap kecil tapi kalau di bersihkan sampai kepada penanaman bisa dua kali lipat, makanya banyak masyarakat tidak mampu sehingga saat musim kemarau jadi sasaran api," tukasnya.
--page
Maka dari itu Syahbana menyambut baik rencana adanya pengadaan excavator dan alat berat lainnya. Dengan begitu nantinya akan diarahkan untuk dipergunakan pinjam pakai oleh masyarakat membersihkan lahan yang tidak produktif itu.
"Saya yakin satu kepala keluarga punya kebun 1-2 hektare saja untuk jenis apapun maka dia bisa bertahan hidup, maka dari itulah adanya alat berat ini merupakan terobosan untuk membantu kalangan petani kelas bawah yang punya biaya pas-pasan untuk membuka dan membersihkan lahan mereka," tandasnya. (NACO/B-5)








