SETIAP individu memiliki kebutuhan yang diperlukan untuk dapat bertahan hidup. Kebutuhan masing-masing individu dipenuhi dengan ragam cara yang berbeda. Perbedaan cara pemenuhan kebutuhan, tentu disesuaikan dengan pendapatan dan kondisi keuangan yang dimilikki.
Begitu pun yang terjadi dengan pola konsumsi masyarakat Palangka Raya di tengah pandemi Covid-19. Seperti yang kita telah ketahui, pandemi memukul mundur laju pertumbuhan ekonomi dunia.
Masyarakat berupaya bertahan di tengah peningkatan jumlah pemutusan hubungan kerja (PHK), peningkatan kebutuhan akan fasilitas kesehatan dan berbagai upaya pemenuhan protokol kesehatan guna mencegah penularan Virus Corona.
Tak heran bila masyarakat akan merubah skema konsumsinya sebagai bentuk adaptasi terhadap kondisi yang terjadi.
Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Stastistik (BPS) Kota Palangka Raya, rata-rata pengeluaran per kapita per bulan masyarakat Palangka Raya pada tahun 2020 mengalami penurunan sebesar 1,10 persen dibandingkan tahun 2019.
Pada 2019 rata-rata pengeluaran per kapita per bulan masyarakat Palangka Raya adalah sebesar Rp. 1.861.948, menurun menjadi Rp 1.841.485 pada tahun 2020.
Rata-rata pengeluaran per kapita per bulan menggambarkan rata-rata banyaknya biaya konsumsi yang harus dikeluarkan masyarakat Palangka Raya selama kurun waktu satu bulan.
Jika kita melakukan kilas balik selama kurun waktu lima tahun ke belakang, rata-rata pengeluaran per kapita per bulan masyarakat Palangka Raya selalu menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun.
Bahkan pada 2019, rata-rata pengeluaran per kapita per bulan masyarakat Palangka Raya mengalami peningkatan 8,6 persen dibandingkan 2018.
Peningkatan rata-rata pengeluaran per kapita per bulan, dapat memberi gambaran peningkatan daya beli masyarakat terhadap barang dan jasa.
Penurunan rata-rata pengeluaran per kapita per bulan masyarakat Palangka Raya 2020 jelas menggambarkan menurunnya daya konsumsi masyarakat Palangka Raya. Ada dua skema yang menjadi penyebab turunnya daya konsumsi masyarakat Palangka Raya.
Pertama, karena berkurangnya pendapatan masyarakat akibat pengurangan jam kerja, pemberhentian sementara, maupun pengurangan pekerja akibat pandemi Covid-19. Pengurangan pendapatan cenderung membuat masyarakat untuk mengurangi tingkat konsumsinya.
Dengan begitu mereka masih mampu bertahan memenuhi kebutuhannya, meski tidak seperti pola konsumsi yang dahulu dilakukan. Kedua, diberlakukannya kebijakan pemerintah yang membatasi ruang gerak masyarakat.
Pembatasan gerak masyarakat demi meminimalisir penyebaran Covid-19 mendorong masyarakat untuk melakukan segala aktivitas di rumah baik belajar, bekerja bahkan beribadah.
Kegiatan masyarakat yang didominasi di rumah menurunkan konsumsi masyarakat terutama konsumsi pariwisata, hiburan, serta konsumsi makanan dan minuman jadi.
Para muda-mudi yang biasanya menghabiskan banyak waktu untuk nongkrong di café berkurang dan bahkan hampir tidak banyak dilakukan ketika awal-awal adanya kebijakan di rumah saja.
Di samping itu biaya transportasi yang biasa dikeluarkan juga berkurang bahkan untuk sebagian kalangan menjadi tidak ada.
Selain melalui rata-rata pengeluaran per kapita per bulan, pola konsumsi masyarakat Palangka Raya terlihat dari bagaimana share dari masing-masing kelompok komoditas yang dikonsumsi.
Dari segi struktur makanan dan bukan makanan, konsumsi bukan makanan masih mendominasi pengeluaran masyarakat Palangka Raya.
Sebanyak 42,6 persen dari distribusi pengeluaran masyarakat Palangka Raya ada pada kelompok makanan, sedangkan 57,4 persen lainnya merupakan pengeluaran pada kelompok bukan makanan.
Meskipun dari segi proporsi persentase konsumsi menurun dibandingkankan tahun lalu, ada sedikit keunikan dari pola konsumsi masyarakat saat ini.
Masyarakat Palangka Raya terlihat mengalami peningkatan pada konsumsi komoditas sayur-sayuran, buah-buahan, serta susu dan telur. Meskipun terlihat sederhana namun pola ini perlu mendapat perhatian.
Pandemi membawa masyarakat untuk lebih memperhatikan asupan gizi dari makanan-makanan dengan nutrizi dan gizi yang tinggi. Konsumsi makanan dan minuman jadi pun mengalami penurunan, dari yang sebelumnya 17,64 persen menjadi 16,34 persen.
Penurunan ini memang jelas terjadi karena pembatasan aktivitas masyarakat di luar rumah dibatasi. Sehingga masyarakat lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengolah makanan secara mandiri di rumah, sembari meningkatkan asupan gizi keluarga.
Pandemi memang membawa banyak sekali perubahan, termasuk dalam hal pola konsumsi. Masyarakat harus cermat menyikapi perubahan yang ada, baik terhadap dampak yang diakibatkan maupun tantangan yang ada.
Pandemi tentu membawa perubahan pada pendapatan masyarakat yang terdampak akibat pandemi. Sehingga penekanan atau substitusi pengeluaran menjadi alternatif yang mampu dilakukan oleh masyarakat Palangka Raya.
Pemerintah selaku pemangku kebijakan dapat dengan cermat mengamati bahwa ada potensi penurunan daya beli akibat dampak pandemi. Penurunan daya beli ini tentu saja menurunkan tingkat kesejahteraan masyarakat Palangka Raya.
Pencapaian pemerintah dalam menyelesaikan masalah pandemi, salah satunya akan tergambar dari peningkatan kemampuan daya beli masyarakat ditengah kondisi tatanan kehidupan baru (new normal).
Di sisi lain masyarakat juga harus jeli mensiasati kondisi yang ada. Perubahan pola konsumsi yang mengurangi konsumsi makanan jadi dengan meningkatkan konsumsi makanan bernutrisi tinggi menjadi langkah yang tepat.
Meski terlihat sederhana, namun adanya pandemi memberikan tantangan baru kepada masyarakat untuk selalu menjaga imun tubuh yang baik. Salah satunya dengan melakukan perubahan pola konsumsi menjadi lebih sehat.









