BORNEONEWS, Tamiang Layang - Tidak semua orang merasa terpanggil untuk menjadi relawan pemadam kebakaran. Itu karena tugas ini termasuk sangat beresiko dan menguras energi. Seperti yang pernah dialami oleh relawan Barisan Pemadam Kebakaran atau BPK Samuja Ampah Kabupaten Barito Timur saat menangani kebakaran selama 17 jam.
Wakil Ketua BPK Samuja Ampah, Davi Pramana mengaku, peristiwa yang terjadi pada tahun 2019 tersebut merupakan tugas paling berat yang dihadapi relawan BPK Samuja sejak pemadam kebakaran swasta itu terbentuk.
"Pagi itu dari jam 7 kami sedang jadwal latihan dengan pelatih yang didatangkan dari Kalimantan Utara untuk mengajarkan cara penanganan karhutla (kebakaran hutan dan lahan) karena kami belum lama terbentuk," ujar Davi di Ampah, Selasa 4 Mei 2021.
Setelah tiga jam latihan, tiba-tiba BPK Samuja mendapatkan laporan terjadinya kebakaran hutan di Desa Tampa, padahal sejak pagi relawan yang mengikuti pelatihan tersebut belum sarapan.
"Kami langsung meluncur dan melakukan penanganan sampai selesai jam 12 siang, namun belum sempat istirahat kami kembali mendapatkan panggilan penanganan di simpang Desa Runggu Raya," kata pria yang bekerja sebagai staf di Kantor Lurah Ampah Kota ini.
--page
Mereka melakukan pemadaman api hingga sekitar pukul 15.00 WIB lalu beristirahat untuk minum dan makan roti. Rasa letih belum juga sirna, kembali masuk laporan bahwa terjadi kebakaran di belakang kantor Camat Paku.
"Disana kami melakukan penanganan sampai jam 8 malam lalu kami beristirahat untuk makan karena dari pagi pasukan belum makan, tapi ternyata saat kami beristirahat jam 9 malam, api kembali menyala dan membesar karena saat itu angin cukup kencang. Kami berperang lagi melawan api sampai jam 3 subuh, dengan kondisi sangat capek kami baru bisa istrahat usai salat subuh," kata Davi.
Menurutnya, meski tugas yang diemban saat penanganan kebakaran sangat berat, namun Davi dan rekan-rekannya tidak mengabaikan tugas utama dalam pekerjaan sehari-hari.
"Jadi pagi itu hanya istrahat beberapa jam kami harus masuk kerja sesuai dengan profesi kami masing-masing, karena di Samuja kami bertugas murni sebagai relawan tanpa digaji," imbuhnya.
Dia memastikan, panggilan permintaan bantuan apapun yang disampaikan masyarakat akan direspon oleh relawan BPK Samuja. Selama ini berbagai permasalahan sudah ditangani penyelamatan, penanganan orang sesat, penemuan mayat, lakalantas, karhutla maupun bencana lainnya.
--page
"Kami sudah berjanji setia melayani masyarakat karena ini tugas mulia dan panggilan jiwa tanpa digaji. Kami juga bangga dengan masyarakat Barito Timur terutama warga Ampah Kota yang dermawan dan selalu memberikan dukungan materi atas kegiatan BPK Samuja," ungkap Davi.
Davi mengisahkan, terbentuknya BPK Samuja dimulai tahun 2018 saat terjadi kebakaran hebat pada sebuah toko bangunan di Ampah. Saat itu, 7 buah mobil pemadam kebakaran dari Kalsel, Barito Timur dan Barito Selatan kewalahan mengatasi kebakaran toko yang berisi bahan mudah terbakar seperti, cat, tinner dan gas elpiji.
"Kebakaran sangat dahsyat, 7 unit mobil pemadam berjibaku kurang lebih 4 jam baru bisa dipadamkan," ungkapnya.
Sejak kejadian itu masyarakat di Kelurahan Ampah Kota berinisiatif untuk mendirikan tim pemadam kebakaran swasta yang dinaungi oleh Yayasan Sabilal Mujahidin Ampah.
Saat itu relawan yang bergabung berjumlah 5 orang dengan aset sebuah mesin pompa air yang dihibahkan oleh pemerintah kota Palangka Raya pada tahun 2006 dan tersimpan di dalam gudang sekitar 8 tahun.
"Jadi pertama kali terbentuk hanya bergantung kepada belas kasihan atau kerelaan masyarakat sekitar, seperti armada pertama kami mobil kijang kotak keluaran tahun tujuh puluhan yang dihibahkan warga Ampah Kota," ungkapnya.
"Kemudian Mesjid Sabilal Mujahidin mulai membuka donasi untuk pembelian mobil tanki pemadam pertama, setelah itu kami mendapatkan lagi bantuan 1 unit armada pemadam dari Pemerintah Kabupaten Barito Timur," tandas Davi. (BOLE MALO/B-7)









