BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Guna menentukan apakah hilal atau bulan baru terlihat pada tanggal 29 Ramadan 1422 Hijriyah, tim dari Kementerian Agama (Kemenag) Kotawaringin Barat (Kobar), Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pangkalan Bun, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kobar serta penggemar astronomi melakukan pemantauan di puncak bangunan Hotel Tiara Pangkalan Bun, Selasa, 11 Mei 2021.
Walau demikian setelah dilakukan pemantauan, menjelang masuknya waktu magrib ternyata hilal masih belum terlihat di Kabupaten Kobar.
Plt Kepala Kemenag Kobar Taufiq dilokasi pemantauan mengatakan bahwa kenapa pemantauan hilal tersebut dilakukan tanggal 29 Ramadan.
"Karena perhitungan kalender hijriyah berpatokan pada bulan. Jadi satu bulan dalam kalender Hijriyah terdiri dari 29 atau 30 hari. Nah, bila hari ini hilal bisa terlihat maka, pemantau yang melihat segera melapor pada Kemenag Pusat guna melakukan sidang Istbat. Pemantau tersebut juga dimintai kesaksiannya dibawah sumpah dalam sidang tersebut," jelas Taufiq Alamsyah.
Namun, menurut Taufiq Alamsyah bila tanggal 29 Ramadan hilal belum terlihat, maka pelaksanaan puasa digenapkan menjadi 30 hari.
--page
"Pemantauan juga dilakukan pada 88 titik pantau oleh tim Kemenag diberbagai Kabupaten/Kota si Indonesia dari Aceh hinga Papua. pemantauan serupa juga dilakuka oleh tim dati BMKG pada 28 titik di seluruh Indonesia. Sehingga bila ada tim yang bisa melihat hilal, maka mereka langsung menginformasikan hal tersebut pada pusat," jelas Taufiq Alamsyah.
Di tempat yang sama Kepala BMKG Kelas III Iskandar Kabupaten KobarnAqil Ihsan mengatakan posisi hilal saat pemantauan berada di bawah ufuk atau horisontal pada waktu magrib.
"Waktu magrib hari ini pukul 17.30 WIB. Sedangkan saat itu dari perhutungan astronomi posisi hilal atau bulan berada pada -4° 45, 4 menit. Sehingga saat magrib tidak bisa terpantau," jelas Aqil Ikhsan. (WAHYU KRIDA/B-5)









