SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Rumah hingga kawasan pertanian warga di Samuda, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Kabupaten Kotawaringin Timur terendam banjir sejak beberapa hari terakhir.

Agus, warga setempat mengatakan, hingga Sabtu, 22 Mei 2021 belum ada tanda-tanda debit air turun, bahkan aktivitas mereka harus terganggu.

"Rumah ibadah, permukiman warga, sawah, perkebunan, dan lainnya terendam," kata Agus.

Akibat kondisi ini kata dia tidak hanya membuat mereka tidak bisa bekerja saja, namun juga membuat pertanian dan perkebunan mereka terancam gagal panen.

Bahkan sampai saat ini kata Agus tidak pejabat pemerintahan maupun wakil rakyat mereka yang turun mengecek lokasi itu.

Tidak hanya itu, tempat mereka memang tidak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah, terutama sarana dan prasarana pertanian.

Mereka khawatir hujan akan kembali turun yang mengakibatkan rumah semakin terendam dan tambah parah.

"Kami berharap ini bisa jadi perhatian pemerintah, mengapa sampai terjadi demikian, ini semakin mempersulit kehidupan kami ditengah wabah ini," tukasnya.

Sementara itu, aktivis di Kabupaten Kotawaringin Timur Audy Valent mengaku prihatin dengan kondisi warga tersebut.

Bahkan, kata dia, warga sudah beberapa kali menyampaikan keluhannya itu kepada dirinya. Dan banjir disebutkan akibat curah hujan yang tinggi dan resapan air sudah tidak ada lagi.

Dia mengungkapkan, di Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, ada kegiatan besar-besaran pembukaan lahan perkebunan untuk kelapa sawit.

"Ini yang harus jadi perhatian pemerintah dan DPRD Kotim, jangan biarkan ini, karena hutan kita sudah menipis. Jangan izinkan lagi kegiatan untuk perkebunan kelapa sawit," tandasnya. (NACO/B-11)