PALANGKA RAYA –

SEJAK Maret 2020 hingga saat ini pandemi Covid-19 terus berlangsung dan membawa banyak dampak bagi tatanan kehidupan masyarakat. Masyarakat dituntut untuk sigap dan tanggap terhadap berbagai perubahan yang dengan cepat terjadi. Suka tidak suka, masyarakat akan diperhadapkan dengan kemajuan teknologi digital yang merambah ke berbagai lini kehidupan. Bukan hanya dalam dunia pendidikan, namun telah merambah jauh pada dunia ekonomi, pekerjaan, gaya hidup hingga kesehatan.

Penurunan Pendapatan Akibat Pandemi

Pandemi Covid-19 di Indonesia telah berlangsung lebih dari satu tahun. Kondisi ini terpaksa memukul mundur pertumbuhan ekonomi. Berdasarkan hasil rilis Badan Pusat Statistik mengenai pertumbuhan ekonomi Indonesia Triwulan-I 2021, Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi -0,74% (y-on-y). Pertumbuhan ini memang jauh lebih baik dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun pertama menghadapi pandemi. Namun, tak bisa dipungkiri bahwa masih banyak kelompok masyarakat yang mengalami penurunan pendapatan akibat pandemi.

Beberapa kelompok masyarakat dengan usia yang relatif muda dan melek teknologi, tentu lebih mudah untuk beradaptasi dan mencari peluang pendapatan dari sisi yang lain. Namun tidak untuk masyarakat usia lanjut. Mereka cenderung hanya mampu bertahan dan pasrah menerima kondisi yang ada.

Berdasarkan pembagian kelompok masyarakat, Gen Z (lahir tahun 1997-2012) dan Millenial (lahir tahun 1981-1996) adalah generasi yang sangat diuntungkan. Mereka terlahir disaat pesatnya perkembangan dunia teknologi, sehingga tatanan kehidupan digital bukan suatu hal sulit yang harus ditempuh kala mencari peluang pendapatan dari sektor yang lain. Akan tetapi, bagi Gen X (lahir tahun 1965-1980), Gen Baby Boomer (lahir tahun 1946-1964) yang terlahir dengan kondisi berbeda, tentu akan mengalami banyak kesulitan untuk dapat beradaptasi dalam mencari peluang pendapatan ditengah pandemi.

--page

Wajah Baru Investor Indonesia

Menurut hasil Sensus Penduduk Tahun 2020, jumlah penduduk Indonesia mencapai 270,20 juta jiwa. Jumlah Gen Z dan Millenial secara berturut-turut adalah 27,94% dan 25,87% dari total penduduk Indonesia. Sedangkan sisanya adalah Gen X (21,88%), Baby Boomer (11,56%) dan Post Gen Z (10,88%). Melihat komposisi penduduk Indonesia saat ini, Gen Z dan Millenial menduduki lebih dari setengah total jumlah penduduk. Kondisi ini seharusnya membawa Indonesia lebih jeli dalam menangkap peluang tatanan kehidupan digital. Keberhasilan adaptasi masyarakat terhadap kondisi tatanan kehidupan digital, tentunya akan membawa pemulihan ekonomi berjalan jauh lebih cepat.

Salah satu peluang yang dengan jeli direspon oleh Gen Z dan Millenial di tengah pandemi adalah menjadi wajah baru pelaku industri pasar modal. Literasi Keuangan yang terus digenjot oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) lewat berbagai platform sosial media ternyata mampu mencuri perhatian Gen Z dan Millenial.

Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), jumlah investor Indonesia meningkat 56,21% dari 2,48 juta pada tahun 2019 menjadi 3,88 juta pada tahun 2020. Bahkan laporan KSEI menyebutkan bahwa jumlah investor Indonesia per April 2021 telah mencapai 5,08 juta dengan kontribusi Gen Z dan Millenial di pasar modal mencapai 57,40%.  Artinya, lebih dari separuh dari total pelaku pasar modal di Indonesia saat ini merupakan Gen Z dan Millenial

Pemanfaatan Momentum Pembagian Deviden

Lahirnya banyak investor Gen Z dan Millenial di tengah pandemi, tentu berkat peran besar sosial media. Konten sosial media saat ini dibanjiri dengan berbagai informasi tentang manfaat investasi, Tak heran bila produk-produk investasi yang diperjualbelikan di BEI, seperti saham, obligasi dan reksadana, bukan suatu hal yang asing ditelinga Gen Z dan Millenial.  Sebagai pelaku pasar modal, Gen Z dan Millenial tentu tahu bahwa ada banyak keuntungan yang dirasakan menjadi investor.

Di samping berkontribusi terhadap perekonomian Indonesia, investasi memberi keuntungan setidaknya dalam dua hal, yaitu capital gain dan deviden. Capital gain adalah selisih dari jual beli produk investasi yang diperoleh investor. Sedangkan, deviden adalah bagian dari keuntungan perusahaan yang dibagikan kepada para pemegang saham berdasarkan surat kepemilikannya.

--page

Meskipun berbagai informasi mengenai pasar modal telah banyak bertebaran di sosial media, tidak banyak informasi yang menyajikan strategi-strategi dalam memperoleh keuntungan maksimal di pasar modal. Salah satunya adalah strategi tentang pemanfaatan momentum pembagian deviden. Sebagian besar investor, terutama yang lahir dimasa pandemi tidak berharap meraih keuntungan dari pembagian deviden. Hal ini karena kurangnya pengetahuan akan aturan penerimaan deviden di pasar modal.

Bulan April hingga Juni adalah waktu yang banyak dipakai perusahaan untuk membagikan deviden. Meskipun tidak semua perusahan membagikan deviden, momentum ini dapat dipakai oleh Gen Z dan Millenial selaku pelaku pasar modal untuk mengoleksi saham-saham yang tahun lalu membagikan deviden. Perusahaan yang dahulu membagikan deviden akan berpotensi untuk kembali membagikan deviden.

Selain itu, investor perlu mengetahui jadwal Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), Cum Date, dan Payment Date. RUPS adalah rapat yang diselenggarakan untuk menentukan besaran deviden yang nantinya akan dibagikan, Cum Date adalah tanggal yang ditetapkan perusahaan untuk mencatat investor-investornya yang akan menerima deviden perusahaan, sedangkan Payment Date adalah tanggal dimana perusahaan akan membagikan devidennya kepada para pemegang saham.

Gen Z dan Millenial tidak perlu memiliki suatu perusahaan dalam waktu yang cukup lama hanya untuk mendapatkan deviden dari perusahaan tersebut. Cukup dengan memastikan bahwa pada tanggal Cum Date yang ditetapkan, mereka memiliki kepemilikan di perusahaan tersebut. Keesokan hari setelah Cum Date berakhir, Gen Z dan Millenial dapat menjual saham tersebut dan tetap akan menerima pembagian deviden di tanggal Payment Date.  Gen Z dan Millenial dapat dengan mudah mengetahui informasi-informasi tersebut melalui situs resmi KSEI.

Selain itu, Gen Z dan Millenial dapat mempertimbangkan indikator Return On Investment (ROI) dan Dividend Yield (DY) untuk menentukan perusahaan mana yang ingin mereka milikki untuk merasakan deviden perusahaanya. ROI menunjukkan persentase manfaat yang diperoleh investor dari penempatan dana ke suatu produk investasi. Sedangkan, DY adalah persentase tingkat keuntungan yang akan diterima investor setelah melakukan investasi di perusahaan tersebut. Dengan mencermati indikator ini, Gen Z dan Millenial mampu memaksimalkan keuntungan dengan menginvestasikan dana mereka pada perusahaan yang akan membagikan deviden lebih besar.

--page

Ada banyak cara mendapatkan pundi-pundi tambahan pendapatan di tengah pandemi Covid-19, salah satunya dengan memanfaatkan momentum pembagian deviden yang saat ini sedang berlangsung. Gen Z dan Millenial, selaku generasi yang melek teknologi dapat menangkap peluang ini dan memanfaatkannya secara maksimal. Cermat menyusun strategi dalam berburu deviden di kala momentum pembagian deviden akan membawa Gen Z dan Millenial memperoleh pundi-pundi tambahan pendapatan di kala lesu nya perekonomian akibat pandemi.

Penulis: Lydia Putri/Statistisi Ahli Pertama Badan Pusat Statistik/Pengamat Pasar Modal