BORNEONEWS, Palangka Raya - Dinas Kehutanan (Dishut) Kalimantan Tengah (Kalteng) menilai kawasan yang terdiam selama 3-5 tahun lebih rawan jika terjadi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
“Jika dilihat memang kawasan yang terbakar sudah 3 sampai 5 tahun yang lalu lebih rawan terbakar, karena bahan bakarannya sudah tinggi,” kata Kepala Dinas Kehutanan (Dishut) Kalteng Sri Suwanto melalui Kepala Seksi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Dalkarhutla) Achmad Sugianor.
Dia menjelaskan bahan bakaran bisa berupa tumbuhan kering, maupun tumpukan sisa daun serta bagian tumbuhan yang sudah mati.
Sugianor juga melihat dari pengalaman kawasan yang baru saja terbakar pada tahun sebelumnya sangat jarang sekali kembali terjadi kebakaran.
“Jadi jika dilihat titik titik yang kemarin terbakar jarang terbakar lagi. Kalau sampai terjadi kebakaran di titik yang sama pasti tidak sampai parah,” ungkapnya.
--page
Sugianor mengapresiasi langkah pemerintah pusat yang juga turut mendukung suksesnya penanganan Karhutla beberapa tahun terakhir, melalui rekayasa cuaca.
“Langkah pembuatan hujan buatan saat mendekati kemarau cukup sukses. Jadi masih ada bibit-bibit awan berbeda jika sudah benar benar kemarau panas yang sudah tidak ada bibit awan hujan,” tandasnya. (HERMAWAN DP/B-6)









