MUARA TEWEH –

BORNEONEWS, Muara Teweh – Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga (Budparpora) Kabupaten barito Utara terus focus dalam upaya pelestarian kebudayaan dan pengembangan pariwisata.

Kepala Dinas Budparpora Barito Utara, Annisa Cahyawati mengatakan masyarakat pedalaman Barito Utara memiliki kebudayaan yang tinggi sejak lebih dari lima abad silam.

"Antara lain memiliki keahlian memproses logam mulai dari proses penambangan bijih besi hingga memproses menjadi produk logam,” katanya, Selasa 22 Juni 2021.

DPenelitian yang telah dilakukan Badan Arkelogi Kalimantan Selatan (selaku badan arkeologi wilayah Kalimantan) tahun 2017-2018 ditemukan teknik pengerjaan logam kuno sekitar abad 12 - 19 di DAS Barito Utara wilayah Kecamatan Gunung Timang, Montalat, Teweh Timur dan Teweh Baru.

“Serangkaian proses aktivitas peleburan bijih besi (manitik) tradisi nenek moyang kita,” katanya. Teknik pengerjaan membuat benda logam dari bahan baku yang didapat dari menambang batu besi menjadi bahan setengah jadi atau logam mentah melalui peleburan sampai terbentuk benda atau alat besi yang diinginkan, berupa senjata yang ampuh atau sakral dengan menggunakan tungku.

--page

“Hal ini membuktikan bahwa sejarah dan perkembangan teknologi logam serta keahlian nenek moyang mengolah logam dapat dimaknai sebagai nilai - nilai kebudayaan yang menjadi identitas dan kebanggaan daerah bahkan nasional,” ungkapnya.

Dengan memahami sejarah dan asal usulnya, lanjut dia, tradisi ini dirasa perlu pertahankan sebagai salah satu teknologi tradisional bagian dari OPK ( Objek Pemajuan Kebudayaan). 

“Setidaknya sebagai pewaris atau pelaku pandai besi yang merupakan proses akhir pembuatan alat besi setelah melalui tahap hingga penempaan untuk di bentuk menjadi alat,” ungkapnya.

Pemanfaatan potensi pandai besi peninggalan arkeologi di wilayah Barito Utara dapat menjadi alternatif diantaranya sebagai wisata budaya minat khusus yang diharapkan berdampak untuk meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar. (RAMADHANI/B-6)