BORNEONEWS, Palangka Raya – Trainer Pembangunan SDM SAS Management, Fathan Asy’ari menilai pemerintah perlu melakukan inovasi pendidikan di masa pandemi Covid-19. Hal itu dalam rangka mendukung dan memancing generasi muda untuk berkarya nyata.
“Pemerintah harus melahirkan kebijakan-kebijakan yang tepat dan berinovasi, yang dapat membantu memperlancar proses belajar walaupun saat ini dengan online. Kemudian membatasi hal-hal yang bisa berpengaruh negatif terhadap generasi saat ini,” tutur Fathan, Rabu, 23 Juni 2021.
Fathan menilai interaksi yang selama ini menjadi tonggak penyalur ilmu, kini terbatas. Sehingga pelajaran dan pengajaran tidak bisa berjalan sebagaimana mestinya.
Ia menghitung sejak awal Covid-19 melanda Indonesia pada 2 Maret 2020 wabah banyak pengaruh buruk yang berkembang pada anak anak. Mulai dari game online, aplikasi goyang tik tok dan tonton yang tidak mendidik dan pergaulan bebas terus memperkeruh harapan dan cita-cita bangsa.
Perbedaan zaman dan kondisi juga sangat berpengaruh, Dahulu sejumlah cita-cita populer ketika ditanya seperti ingin menjadi pak Habibie yang membuat pesawat terbang hingga menjadi presiden.
“Kini mungkin banyak yang ingin menjadi artis, gamer, youtuber ataupun bahkan kebingungan akan tujuan dan cita-cita hidupnya,” tuturnya.
Menurut dia, pendidikan tidak hanya tentang persekolahan yang mengajarkan membaca, menulis dan berhitung kepada siswa. Tetapi pendidikan semestinya dipandang sebagai bagian dari perjuangan mewujudkan cita-cita kemanusiaan, kebangsaan dan kemerdekaan Indonesia.
--page
“Pendidikan yang fungsional tidak hanya di bangku sekolah tetapi juga di lingkungan masyarakat,” tandasnya. (HERMAWAN DP/B-11)









