BORNEONEWS, Sampit - Kota Sampit, Kotawaringin Timur, mengalami inflasi atau kenaikan harga sebesar 0,54 persen pada Juni 2021 lalu. Salah satu komoditas yang memiliki andil menyumbang inflasi adalah ikan tongkol.
"Secara berturut-turut komoditas menyumbang inflasi adalah daging ayam ras, tempe, ikan tongkol, tahu mentah, perbaikan, servis kendaraan bermotor," ungkap Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kotawaringin Timur, Eddy Surahman, Kamis 8 Juli 2021.
Komoditas-komoditas tersebut memiliki andil tertinggi terhadap peningkatan indeks harga yang signifikan di Kota Sampit selama Juni 2021 tadi. Sehingga membuat Sampit menempati urutan ke-7 kota inflasi tertinggi di Indonesia.
"Inflasi ini terjadi karena adanya peningkatan harga yang ditunjukkan oleh peningkatan indeks harga pada tujuh kelompok pengeluaran. Di Sampit ada 2 pasar menjadi titik pantau kami Pusat Perbelanjan Mentaya (PPM) dan Pasar Keramat," kata Eddy.
Adapun indeks harga komoditas berturut turut adalah kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 0,97 persen. Kelompok transportasi sebesar 0,71 persen. Kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,55 persen. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,51 persen.
--page
Selanjutnya, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,30 persen. Kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar lainnya sebesar 0,17 persen. Dan, kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,01 persen.
Sementara itu sejumlah kota titik pantau justru mengalami deflasi atau penurunan harga.Secara keseluruhan di Indonesia terjadi deflasi sebesar 0,16 persen. Dari 90 kota IHK (indeks harga konsumen), 56 kota mengalami deflasi dan 34 kota mengalami inflasi. Deflasi tertinggi terjadi di Kupang sebesar 0,89 persen dan terendah terjadi di Palembang sebesar 0,01 persen.
Sedangkan inflasi tertinggi terjadi di Singkawang sebesar 1,36 persen dan terendah terjadi di Pekanbaru dan Tanjung Selor sebesar 0,01 persen.(USAY NOR RAHMAD/B-5)









