SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Kembali tertundanya haji karena pandemi tahun ini, tampaknya membuat sebagian warga mengalihkan ke ibadah kurban. Hal ini menghadirkan berkah tersendiri bagi Samsul Bahri, pedagang sapi di Tjilik Riwut kilometer 5,5 Sampit, Kotawaringin Timur. 

Bila pedagang lain mengeluh sepinya pembeli, Samsul justru mengalami peningkatan penjualan hewan kurban dari tahun sebelumnya. Menurutnya, peminatnya banyak warga dalam kota. Sementara warga di kawasan perkebunan tidak bisa keluar karena kebijakan perusahaan. 

"Orang yang tidak bisa naik haji memilih berkurban. Makanya pemesanannya cukup tinggi di tempat kami," kata pria yang akrab disapa Asul itu, Minggu 11 Juli 2021.

Dari 400 ekor sapi yang dia datangkan sekitar sebulan lalu. Kini hanya sisa 15 ekor. Dia optimis empat hari lagi semua sapinya laku terjual. 

"Insya Allah hari Rabu pekan depan sudah habis," ujar Asul. 

--page

Adapun harga sapi di tempatnya, ditentukan dari berat. Sapi dengan kisaran berat 70-45 kilogram harganya Rp 17 juta. Sapi dengan kisaran berat 80-85 kilogram harganya Rp 18,5 juta. Sapi dengan kisaran berat 90-95 harganya Rp19 juta, dan sapi dengan kisaran berat 110-150 kilogram harganya Rp 22 juta hingga Rp 25 juta. 

Kendati demikian, Asul mengaku tidak bisa lagi mendatangkan sapi. Pasalnya harga sapi semakin mendekati hari Iduladha, makin mahal.

"Kalau mendatangkan lagi, tidak mungkin. Harganya sudah mahal ditambah ongkos kirim Rp 600 ribu per ekor. Kami fokus menjual yang sisa ini dulu. Semoga cepat laku," pungkas pria yang sempat viral beberapa waktu lalu itu. (USAY NOR RAHMAD/B-7)