BORNEONEWS, Tamiang Layang - DPRD Barito Timur menggelar rapat kerja untuk menyikapi kelangkaan elpiji 3 kilo gram yang beberapa kali terjadi.
Rapat kerja dihadiri Asisten Sekda, Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi dan UKM Barito Timur, Perwakilan Stasiun Pengisian Bulk Elpiji atau SPBE Lenggang dan perwakilan agen penyalur elpiji 3 kilo gram.
Anggota DPRD dari Partai Kebangkitan Bangsa atau PKB, Wahyudinnor menjelaskan dalam rapat ini DPRD mempertanyakan apa yang menjadi penyebab sering terjadinya kelangkaan gas yang diperuntukkan bagi masyarakat miskin tersebut.
"Pihak agen menjelaskan penyebabnya salah satunya terkait kendala alam yakni kerusakan jembatan Matraman Kabupaten Banjar beberapa waktu lalu serta kerusakan mobil tangki pengangkut milik SPBE Lenggang," ungkap Wahyudinnor usai rapat, Selasa, 13 Juli 2021.
"Jika dilihat dari distribusi elpiji 7 truk (3.920 tabung) per hari seharusnya sudah mencukupi jika tidak ada kendala tersebut," lanjutnya.
--page
Meski telah mendapatkan penjelasan penyebab kelangkaan elpiji, DPRD tetap mengingatkan agen agar distribusi gas tersebut tidak dipermainkan oleh oknum tertentu yang dapat menyebabkan kembali terjadinya kelangkaan di masyarakat serta harga eceran melambung tinggi.
"Tadi pihak agen sudah berjanji bahwa kedepannya mereka akan mengupayakan sehingga kelangkaan seperti yang terjadi beberapa waktu lalu tidak terulang lagi," jelasnya.
Ketua DPRD Barito Timur, Nursulistio yang memimpin rapat kerja tersebut, menyampaikan harapan terjalinnya kerjasama dan itikad baik dari semua pihak, baik dari dinas perdagangan dalam mengawasi distribusi gas tersebut maupun dari agen penyalur bagaimana mendistribusikan dengan benar kepada pangkalan yang ada.
"Harapan kami setelah rapat kerja ini, dilakukan pembenahan distribusi elpiji 3 kilogram di Barito Timur supaya tepat waktu dan seadil-adilnya secara merata dan tepat sasaran kepada masyarakat yang berhak menggunakan," kata politisi dari Partai Golkar ini.
Menurutnya, elpiji 3 kilogram adalah gas bersubsidi untuk masyarakat kurang mampu, karena itu barang tersebut rentan menjadi objek yang disalahgunakan oleh oknum-oknum tertentu, yakni menjual dengan harga yang tinggi kepada masyarakat yang tidak berhak.
Pada kesempatan itu dia juga mengimbau masyarakat yang mampu agar membeli gas yang non subsidi serta memberikan kesempatan masyarakat yang menjadi sasaran elpiji 3 kilogram.
"Mungkin selama ini masyarakat yang tidak mampu itu tidak menggunakan elpiji 3 kilogram bukan karena tidak ingin membeli tapi karena tidak kebagian atau distribusi belum sampai kepada mereka," katanya. (BOLE MALO/B-6)









