PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Informasi mengenai 'Fenomena Aphelion' banyak beredar di media sosial, baik itu Facebook maupun WhatApps. Berikut isi pesannya.

"Mulai besok hari ini jam 05.27 kita akan mengalami FENOMENA APHELION, dimana letak bumi akan sangat jauh dr matahari. Kita tdk bs melihat fenomena tsb, tp kita bs merasakan dampaknya. Ini akan berlangsung sampai bulan Agustus. Kita akan mengalami cuaca yg dingin melebihi cuaca dingin sebelumnya,yg akan berdampak meriang flu,batuk sesak nafas dll. Oleh Krn itu mari kita semua tingkatkan imun dgn byk2 meminum vitamin atau suplemen agar imun kita kuat. Smg kita semua selalu ada dim lindunganNYA. Aamiin. Jarak bumi ke matahari perjlnan 5 mnt cahaya atau 90.000.000 km.. Fenomena aphelion menjadi 152.000.000 km . 66 % Ibh jauh. Jadi hawa lbh dingin"

Tim Borneonews, mencoba mengonfirmasi terkait informasi tersebut kepada Kepala BMKG Sta Met Kelas III Iskandar, Kotawaringin Barat, Aqil Ihsan melalui pesan singkat WhatsApp. Secara tegas ia menyebutkan bahwa informasi tersebut tidak benar atau hoaks.

"Itu hoaks pak," ucapnya singkat, Kamis, 15 Juli 2021.

Aqil menuturkan, informasi serupa sudah mulai beredar sejak 2018. Dia juga sudah menjelaskannya. Ia-pun mengirimkan release 3 tahun silam yang masih relevan terkait fenomena tersebut.

Dalam rilisnya, disebutkan bahwa sebenamya fenomena aphelion ini adalah fenomena astronomis yang terjadi setahun sekali pada kisaran bulan Juli. Sementara itu, pada waktu yang sama, secara umum wilayah Indonesia  berada pada periode musim kemarau. Hal ini menyebabkan seolah aphelion memiliki dampak yang ekstrem terhadap pernurunan suhu di Indonesia.

--page

Padahal pada faktanya, penurunan suhu di bulan Juli belakangan ini lebih dominan disebabkan karena dalam beberapa hari terakhir di wilayah Indonesia, khususnya Jawa, Bali, NTB, dan NTT, kandungan uap di atmosfer cukup sedikit. Hal ini terilihat dari tutupan awan yang tidak signifikan selama beberapa hari terakhir.

Secara fisis, uap air dan air merupakan zat yang cukup efektif dalam menyimpan energi panas. Sehingga, rendahnya kandungan uap di atmosfer ini menyebabkan energi radiasi yang dilepaskan oleh bumi ke luar angkasa pada malam hari, tidak tersimpan di atmosfer dan energi yang digunakan untuk meningkatkan suhu atmosfer di atmosfer lapisan dekat permukaan bumi, tidak signifikan.

Hal inilah yang menyebabkan suhu udara di Indonesia saat malam hari di musim kemarau relatif lebih rendah dibandingkan saat musim hujan atau peralihan. Kondisi ini bertolak belakang dengan kondisi musim hujan atau peralihan, bahwa kandungan uap air di atmosfer cukup banyak, sehingga atmosfer menjadi semacam "reservoir panas" saat malam hari.

Selain itu, pada bulan Juli ini wilayah Australia berada dalam periode musim dingin. Sifat dari massa udara yang berada di AUstralia ini dingin dan kering. Adanya pola tekanan udara yang relatif tinggi di Australia, menyebabkan pergerakan massa udara dari Australia menuju Indonesia semakin signifikan, sehingga berimplikasi pada penurunan suhu udara yang cukup signifikan pada malam hari di wilayah Indonesia khususnya Jawa, Bali, NTB, dan NTT.

Kemudian, fenomena aphelion memiliki pengaruh yang kurang signifikan terhadap penurunan suhu di Indonesia, sehingga diharapkan masyarakat tidak perlu khawatir secara berlebihan, terhadap informasi yang menyatakan bahwa akan terjadi penurunan suhu ekstrem di Indonesia akibat dari aphelion. (DANANG/B-7)