JAKARTA –

BORNEONEWS, Jakarta - Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Nailul Huda menyatakan aplikasi Peduli Lindungi masih perlu banyak pembenahan baik untuk membangkitkan aktivitas perekonomian maupun untuk tracing dan tracking COVID-19.

“Jadi, memang pemanfaatan digital teknologi dalam penanganan pandemi sudah banyak dilakukan oleh negara-negara lain seperti Singapura, China, dan lainnya. Maka, pemanfaatan aplikasi Peduli Lindungi seharusnya bisa dioptimalkan untuk menjadi aplikasi wajib untuk setiap orang,” ujarnya, Minggu 1 Agustus 2021.

Menurunya tidak efektifnya aplikasi tersebut dapat berefek pula kepada persoalan administrasi. Misalnya untuk ke bandara perlu menunjukkan kartu vaksin dan bebas virus. Tapi meski kartu vaksin sudah ada, kartu bebas virus justru masih menggunakan kertas atau scan hasil dari klinik maupun rumah sakit.

Ia mengemukakan bahwa aplikasi Peduli Lindungi belum menyediakan sistem yang mencatat status bebas virus.

Kemudian masalah lainnya adalah tracking dan tracing yang hanya hidup apabila Global Positioning System (GPS) tersambung ke aplikasi. Sedangkan, jika tidak membuka aplikasi, maka takkan bisa melakukan tracking dan tracing.

--page

"Jadi masih banyak PR (Pekerjaan Rumah) untuk developer aplikasi Peduli Lindungi,” sebutnya. Beberapa menu juga dikatakan kurang optimal, seperti tes COVID-19 yang tidak ada pemutakhiran dan sinkron dengan data nasional.

“Saya yang terakhir positif COVID-19, namun tidak terdeteksi di aplikasi tersebut dan statusnya masih tidak terpapar. Jadi, rada bahaya juga kalau jadi semacam kartu pass untuk ke mall, bandara, dan tempat publik lainnya,” ungkapnya.

Selain itu tak semua orang juga mempunyai gawai smartphone, sehingga harus dipikirkan juga bagaimana caranya untuk tracking, tracing, testing, dan vaksinasi.

Bagi Nailul, kombinasi analog seperti penggunaan kertas dan digital untuk memperbaiki aplikasi Peduli Lindungi agar bisa menjadi kartu pass untuk ke tempat publik.

Dia memaparkan aplikasi Peduli Lindungi yang belum optimal masih memerlukan gawai atau alat lain untuk dapat menjadi tiket orang untuk berkegiatan di luar rumah.

Sementara teruntuk mereka yang tak memiliki smartphone, maka disarankan menggunakan analog/manual agar dapat berkegiatan di luar rumah.

ANTARA