PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Sebuah pertanyaan bagus datang dari mahasiswa asal Papua yang sedang berkuliah di Kota Palangka Raya, Altegawi Jangge mengenai pengaruh Covid-19 dalam sektor perbankan dalam memberikan kerendahan kepada debitur bank melalui skema-skema dari pemerintah.

Hal ini dijawab secara lugas oleh Staf Ahli Menteri Bidang Ekonomi Makro, Kementerian Investasi, Dr Indra Darmawan dalam Webinar Nasional dengan tema “Memperkuat Ekonomi Indonesia di Masa Pandemi'” yang digagas Klinik Bisnis, Senin, 2 Agustus 2021.

"Dari tahun lalu di perbankan itu dana pihak ketiga atau orang yang menabung angkanya semakin naik, jadi orang-orang susah untuk membelanjakan uangnya. Karena kan mau dibelanjakan kemana, piknik berwisata juga tidak bisa, jadi uang itu disimpan di bank," tutur Dr Indra.

Akibatnya, lanjut Staf Ahli ini, dana yang ada di perbankan itu berlipat karena tidak dibelanjakan. Sementara uang yang ada di golongan bawah ketika mendapatkan uang langsung dibelanjakan, termasuk bansos yang menyasar untuk dibelanjakan. Sementara masyarakat yang menengah ke atas baru akan mengeluarkan uang kalau ia merasa aman.

"Sepanjang orang itu tidak merasa aman maka uang itu tidak akan dibelanjakan, ia akan menganggap tabungan saja. Jadi tabungan masyarakat di bank ini menjadi berlimpah," tuturnya.

--page

Namun sebenarnya yang harus terjadi menurut Dr Indra adalah dana yang ada di bank itu seharusnya bisa disalurkan melalui kredit. Jika pertumbuhan dana pihak ketiga di bank itu sampai di atas 7 persen, sementara kredit minus.

"Perbankan tidak menyalurkan kredit, karena tidak tahu mau menyalurkan kemana. Kita di masa pandemi ini kan terbatas dan dibatasi, kita dibatasi kapasitasnya. Taruhlah restoran misalnya hanya bisa beroperasi 50 persen. Dengan 50 persen saja, itu kapan mau balik modalnya," tutur Indra lagi.

Apalagi di kalangan pedagang yang lebih bawah lagi, kemungkinan pelanggannya tidak akan datang. Jadi dengan 50 persen saja menurut Indra tidak akan bisa sampai balik modal dalam usaha, apalagi ditambah berbagai macam keterbatasan, sehingga bisa dipastikan akan bangkrut.

"Jadi sudah bisa dipahami bahwa usaha itu gagal dengan keterbatasan yang ada. Di berita kemarin saya baca bahwa pedagang di Malioboro itu sudah mengibarkan bendera putih, menyerah. Tapi bagaimana? Mau mengibarkan bendera putih di warungnya terus pulang ke rumah mengibarkan bendera kuning? Dengan ada kematian, ada musibah? Kan begitu, sesuatu yang dilema ini," tuturnya. (TESTI PRISCILLA/B-7)