LAMANDAU –

BORNEONEWS, Nanga Bulik - Banyak masyarakat di Kabupaten Lamandau yang masih meremehkan bahayanya Covid 19. Bahkan saat sakit dan mengalami gejala, dianggap sebagai sakit biasa dan enggan memeriksakan kesehatannya, termasuk tidak ada upaya untuk mengajukan Rapid Test Antigen ataupun Swab PCR.

Informasi yang didapat borneonew.co.id, masyarakat yang merasakan berbagai gejala itu beberapa hari terakhir ini banyak terjadi di beberapa desa di Kabupaten Lamandau. Namun, kebanyakan di antaranya takut untuk memeriksakan kesehatannya, baik karena alasan enggan untuk menjalani treatment seperti perawatan, isolasi mandiri (isoman) atau isolasi terpusat.

Dikonfirmasi tentang hal itu, Satgas Covid-19 Kabupaten Lamandau berharap agar masyarakat tidak phobia untuk berkonsultasi dengan petugas kesehatan atau Satgas Covid-19 di desanya masing-masing. Ketakutan memeriksakan kesehatan justru kontraproduktif dengan upaya bersama dalam mencegah penyebaran Covid-19.

"Paradigma takut memeriksakan kesehatan itu harus dirubah. Isolasi mandiri di rumah tanpa pengawasan itu sangat berbahaya, apalagi jika bergejala dan ada penyakit komorbid. Sudah banyak contoh, akibat terlambat datang ke rumah sakit padahal dalam kondisi kritis, nyawanya tidak dapat diselamatkan," ujar Ketua Satgas Covid-19 kabupaten Lamandau, Hendra Lesmana, saat dikonfirmasi.

Ia yang juga Bupati Lamandau itu menyebut, masyarakat yang merasa bergejala sebaiknya datang ke petugas kesehatan atau ke satgas yang ada di desa dan menyampaikan dengan jujur tentang gejala yang dirasakan. 

--page

Pemkab Lamandau melalui satgas terus berupaya memberikan yang terbaik dalam penanggulagan Covid-19. Salah satu wujudnya adalah dengan disiapkannya tempat karantina terpusat di Mess Desa.

Terpisah, Vera, seorang tenaga kesehatan dari Dinkes Lamandau juga menyebut bahwa menjalani treatment seperti halnya mengikuti karantina di Mess Desa justru sangat mempermudah pasien. Ketentuan untuk bisa ikut karantina di Mess Desa juga tidaklah menyulitkan.

"Silahkan tinggal ikuti SOP (Standar Operasional Prosedur)nya. Datang ke mess desa, lapor ke pos BPBD yang ada di area Mess Desa, kemudian nanti akan dilakukan pemeriksaan kesehatan. Setelah itu nanti akan mendapat paket masker dan vitamin dari petugas kesehatan," katanya.

"Lalu bisa daftar untuk bergabung di group WA (WhatsApp) Mess Desa agar mudah komunikasi. Nantinya yang bersangkutan juga bisa menjalani karantina selama sepuluh hari sampai dua pekan," tambah Vera.

Di mess desa, kata Vera, segala kebutuhan baik makan, minum dan vitamin atau bahkan obat-obatan ditanggung pemerintah daerah. Seperti paket vitamin B kompleks, vit c 500 mg, Vit E, Vit D3 1000 IU dan paracetamol. Beberapa vitamin ini mungkin sekarang mulai langka di apotek.

--page

Satgas Covid-19 Lamandau yang bertugas di Mess Desa juga akan memberikan kit kebutuhan pribadi seperti sabun mandi dan sabun cuci, sikat gigi dan odol, obat nyamuk, pembersih lantai dan lainnya . Kemudian untuk kebutuhan makan dan minum dijamin. Bahkan setelah selesai menjalani isolasi juga masih diberi paket sembako untuk dibawa pulang .

"Berbagai kegiatan juga bisa dilakukan oleh warga Mess Desa (pasien yang menjalani karantina di mess desa), seperti olahraga di luar ruangan dengan tetap mematuhi protokol kesehatan. Sehingga tidak membosankan," beber Vera.

Khusus soal kesehatan, satgas covid-19 Lamandau melalui tim kesehatannya selalu siaga setiap saat baik untuk konsultasi langsung maupun via pesan singkat. Di Mess Desa juga satgas telah menyiapkan 1 orang dokter,  2 perawat dan 2 apoteker yang siap melayani jika ada keluhan pasien.

Diketahui, hanya pasien Covid-19 dan warga hasil tracking yang berstatus orang tanpa geja (OTG) dan pasien bergejala ringan saja yang dapat mengikuti karantina di Mess Desa, sementara yang bergejala sedang hingga berat akan dirawat di RSUD Lamandau agar mendapat penanganan medis secara maksimal.

"Warga Mess Desa biasanya akan menjalani test antigen secara berkala, jika masih reaktif maka harus melanjutkan isolasi 5 hari kedepan sejak test terahkir, jika hasilnya test-nya negatif maka warga bisa pulang dengan mengantongi surat selesai menjalani isolasi," pungkasnya. (HENDI NURFALAH/B-7)