BORNEONEWS, Sampit - Petani sayur di Sampit, Kotawaringin Timur, sedang tidak bergairah. Pasalnya, harga jual sayur sangat murah. Diperparah lagi dengan kenaikan harga pupuk yang semakin mahal.
"Aduh tambah sulit, harga sayur murah, mana harga pupuk mahal. Sementara ongkos harian jalan," kata Adi, petani di kompleks pertanian Jalan Bumi Ayu, Sampit, Senin, 9 Agustus 2021.
Petani mengaku pasrah dengan kondisi ini. Sebab, tak ada alternatif pekerjaan lain lagi. “Mau bagaimana lagi, daripada tidak ada penghasilan sama sekali,” kata Saleh, salah seorang petani di Kelurahan Ketapang, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Minggu (8/8).
Harga sayur yang dihasilkannya hingga separuh harga. Seperti harga sayur sawi biasanya dijual Rp 6.000 per ikat, sekarang turun menjadi Rp 3.000 per ikat. Selanjutnya harga kangkung kini Rp 1.500 per ikat dan bayam Rp 3.000 per ikat.
“Ini karena orang-orang dari luar Sampit, seperti yang kerja di perusahaan sawit, jadi belum bisa ke Sampit gara-gara pandemi. Padahal, mereka termasuk pembeli terbesarnya,” ungkap Saleh.
--page
Di samping itu, kendala pupuk juga menjadi sumber masalah petani yang mengaku tidak termasuk dalam kelompok tani itu. Lantaran tidak mendapat subsidi dari pemerintah, ia harus membeli pupuk dengan harga yang cukup tinggi mengikuti harga pasar.
Adapun kenaikan harga pupuk beragam sesuai dengan jenisnya. Seperti pupuk urea yang sebelumnya dibandrol sekitar Rp 7.000 hingga Rp 8.000 kini naik menjadi Rp 9.000 hingga Rp 12.000. (USAY NOR RAHMAD)/B-7









