MASYARAKAT pada umumnya menganggap bahwa seorang guru merupakan orang yang harus digugu dan ditiru. dalam arti orang yang memiliki charisma dan berwibawa, sehingga perlu untuk ditiru dan diteladani.
Anggapan itu sangat agung dan mulia sekaligus menjadi suatu beban moral tersendiri seandainya kita sebagai seorang guru atau pendidik. Tindakan kita tidak mencerminkan apa yang menjadi anggapan masyarakat banyak.
Di era globalisasi sekarang ini banyak kasus criminal seperti penipuan, pelecehan seksual, tindak kekerasan yang dilakukan sebagian kecil dengan notabene seorang guru. Tetapi seperti dalam peri bahasa, “tinta setitik dapat merusak susu sebelanga”.
Apa yang dilakukan oleh guru akan menjadi sorotan atau perhatian masyarakat luas apalagi yang dilakukan hal yang negative seperti hal yang melanggar norma susila, norma hokum atau norma agama, karena guru adalah sosok orang yang perlu dicontoh, disegani, dan dihormati.
Sosok guru yang patut ditiru dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara khususnya oleh peserta didik menjadikan dilema tersendiri bagi seorang guru matematika.
--page
Sebab sampai saat ini pelajaran matematika kebanyakan peserta didik masih menganggap sebagai pelajaran yang menakutkan, pelajaran yang sulit untuk dipelajari, pelajaran yang membosankan karena menurut peserta didik tidak ada gunanya dalam kehidupan nyata sehari-hari, sehingga peserta didik bersikap masa bodoh dan kurang bersemangat dalam belajar matematika.
Yang lebih memprihatinkan lagi adalah sosok guru metematika biasanya selalu ditakuti oleh peserta didik, yang berakibat fatal yaitu motivasi belajar dan prestasi belajar matematika peserta didik rendah. Hal ini sepertinya sangat jauh berbeda dari sosok guru ideal bagi peserta didik.
Dalam kenyataan matematika adalah dasar dari segala ilmu dan teknologi. Apalagi di era globalisasi seperti saat ini yang ditandai dengan kemajuan IPTEK, pengetahuan dan keahlian berpikir logis yang dikembangkan dalam pelajaran matematika sangat diperlukan.
Ini juga suatu pekerjaan rumah yang sangat berkepanjangan bagi seorang guru matematika untuk mengubah pandangan siswa terhadap guru maupun pelajaran matematika.
Bagaimana agar peserta didik tidak takut lagi terhadap pelajaran matematika? bagaimana menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan bersemangat dalam belajar matematika dan apa yang harus dilakukan oleh seorang guru matematika agar ideal di mata peserta didiknya?
Berbicara tentang ideal memang tidak ada sesuatupun di dunia ini yang benar – benar ideal, tapi ideal bisa digunakan sebagai suatu harapan atau tujuan sehingga ada motivasi atau semangat untuk mewujudkannya.
--page
Seorang guru matematika yang ideal dalam hal ini dapat diartikan seorang guru professional. Hakikat profesi guru menurut Prof. DR. H. Hamzah B. Uno (2007;15), guru merupakan suatu profesi yang berarti suatu jabatan yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru dan tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang luar bidang pendidikan.
Hal ini berarti guru adalah orang dewasa yang secara sadar bertanggung jawab dalam mendidik, mengajar, dan membimbing peserta didik dan memiliki kemampuan merancang program pembelajaran serta mampu menata dan mengelola kelas agar peserta didik dapat belajar dan pada akhirnya dapat mencapai tingkat kedewasaan sebagai tujuan akhir proses pendidikan.
Adapun syarat guru professional adalah sebagai berikut:
1. Guru harus memiliki berbagai ketrampilan, kemampuan khusus, mencintai pekerjaannya, serta menjaga kode etik guru.
2. Guru professional selalu mengembangkan dirinya terhadap pengetahuan dan mendalami keahliannya
3. Guru profesional harus rajin membaca literature dan sebagai tolak ukur profesionalisme seorang guru ada empat kompetensi yaitu kompetensi pedagogic, kompetensi profesional, kompetensi kepribadian dan kompetensi social.
Seorang guru matematika profesional harus dapat menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna (membekas pada pikiran siswa) serta harus memahami karakteristik atau ciri – ciri dari matematika sekolah yang merupakan bagian dari matematika itu sendiri yang dipilih untuk atau berorientasi pada kepentingan pendidikan dalam hal ini sesuai dengan perkembangan anak. Menurut Prof. R. Soedjadi, 2007, karateristik atau ciri – ciri matematika sekolah adalah sebagai berikut:
1. Matematika sekolah memiliki objek kajian yang konkret dan abstrak bertumpu pada kesepakatan (termasuk penekanan kepada aksioma self evident truth)
2. Pola pikir deduktif dan juga induktif,
3. Konsisten dalam sistemnya (termasuk sistem yang dipilih untuk pendidikan),
4. Memiliki/ menggunakan symbol yang kosong dari arti dan juga yang telah memiliki arti tertentu, serta
5. Memperhatikan semesta pembicaraan (bahan juga digunakan untuk pembatasan bahan ajar matematika, sesuai kelas tertentu)
Dengan mamahami karateristik matematika sekolah, seorang guru matematika harus mulai merubah paradigma pembelajaran yaitu dari konvensional (pembelajaran yang berpusat pada guru) ke pembelajaran yang efektif dan inovatif (pembelajaran yang berpusat pada siswa / student center).
Pembelajaran yang efektif dan inovatif adalah pembelajaran matematika yang memberdayakan kemampuan siswa, mulai dari mempertimbangkan bagaimana kondisi anak atau dimulai dari ide ide yang telah dimiliki anak.
Ide-ide ini akan digunakan untuk membuat ide baru. Agar anak–anak terlibat dalam pembuatan atau mengkonstruksikan ide-ide baru diperlukan tugas atau kegiatan siswa yang memerlukan pemikiran. Melalui tugas atau kegiatan siswa tersebut, siswa harus mampu mengembangkan pemahamannya sendiri.
Pemahaman mereka dan rasa percaya diri mereka akan tumbuh sebagai hasil dari dilibatkannya mereka dalam mengerjakan matematika. Melibatkan siswa dalam mengerjakan matematika, sehingga siswa dapat membuat atau mengembangkan ide- ide baru yang dapat mereka gunakan untuk pemahaman mereka selanjutnya mereka dapat melihat bahwa matematika itu realistis atau masuk akal melalui penglihatan mereka sendiri dan dapat mempercayainya karena mampu mengerjakannya.
Siswa dapat mempercayainya karena siswa mampu mangerjakannya serta siswa dapat mengaplikasi pemahaman konsep matematika yang mereka kuasai dalam kehidupan nyata sehari-hari.
Hal ini akan dapat merubah pandangan siswa terhadap guru atau pelajaran matematika yaitu siswa tidak merasa takut, sulit atau bosan lagi untuk belajar matematika.
Dalam pelaksanaan pembelajaran matematika dikelas seorang guru matematika harus dapat merancang suasana belajar yang menyenangkan dan dapat menentukan pendekatan, metode strategi atau model pembelajaran yang tepat dilakukan guru matematika dalam pelaksanaan pembelajaran matematika dikelas adalah sebagai berikut:
1. Menggunakan pendekatan kontekstual yaitu memberikan masalah kontekstual yang meliputi pemanfaatan lingkungan yang dekat dengan kehidupan anak didik, masalah nyata atau real, masalah dapat memuat pengetahuan yang mudah atau dapat dibayangkan peserta didik.
2. Menggunakan pendekatan pembelajaran konstruktivisme yaitu siswa mengkonstruksi atau membangun sendiri pengetahuan mereka sendiri. Alat alat yang digunakan untuk membangun pemahaman adalah ide-ide yang telah ada yakni pengetahuan yang telah dimiliki siswa.
Material atau bahan yang digunakan adalah apa yang dilihat siswa, didengar, atau disentuh disekitarnya atau sebagian material adalah pemikiran atau ide siswa sendiri. Usaha yang harus dilakukan adalah berfikir secara aktif dan reflektif.
3. Menggunakan alat peraga dalam pembelajaran matematika sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran sehingga pembelajaran lebih menarik dan menyenangkan dan siswa tidak merasa bosan dan jenuh untuk belajar matematika
4. Menggunakan lembar kegiatan peserta didik (LKPD) dalam kegiatan pembelajaran agar pemahaman siswa terhadap konsep matematika dapat terarah dan tersruktur sehingga siswa lebih mudah untuk memahami konsep matematka tersebut serta menyelenggarakan penilaian dan evaluasi, proses dan hasil belajar secara kontinyu.
5. Menerapkan model pembelajaran kooperatif atau pembelajaran secara berkelompok. Walau belajar adalah proses reflektif dan internal tetapi anak-anak dapat menguji, mengungkap, memodifikasi dan mengembangkan ide ide baru melalui interaksi dengan anak anak lain dan para guru. Melalui model kooperatif ini siswa bisa mengembangkan kemampuan sosialnya melalui belajar matematika seperti sikap menghargai pendapat orang lain, bekerja sama, saling membantu dalam memahami konsep matematika yang dipelajari.
6. Mengembangkan sumber belajar sendiri yang disesuaikan kondisi siswa, sehingga sumber belajar yang digunakan benar benar efektif dan selalu berkomunikasi secara efektif, empiric, dan santun dengan peserta didk.
Jadi dapat disimpulkan bahwa seorang guru metematika yang profesional harus merubah paradigma pembelajaran metematika dikelas dari yang bersifat kovensional atau teacher center ke pembelajaran yang efektif, efisien dan inovative yaitu pembelajaran yang menekankan aktifitas siswa secara optimal (student center).
Setiap siswa berusaha agar bisa mengembangkan kemampuan berpikirnya (mengembangkan intelektulnya) dan bekerja secara independen, mengembangkan kemampuan sosialnya, emosionalnya melalui belajar matematika bisa secara mandiri maupun secara berkelompok sehingga setiap siswa aktif berdiskkusi dan berinteraksi dengan siswa yang lain dalam kelompok maupun secara klasikal.
Oleh: Farida Yustanti, S.Pd
Guru Matematika SMAN 2 Maliku









